Arsip untukOktober, 2009

Merindu Jogja!

Sudah lebih dari setahun berlalu. Sungguh saat ini suasana Jogja sangat kurindu. JOGJA, JOGJA, JOGJA!

Semua tentang Jogja.

Tentang sebuah pertemuan.

Tentang sebuah perkenalan.

Tentang sebuah hubungan.

Tentang KITA.

Juga tentang persahabatan.

Jogja

Jogja

Entah apa istimewanya Kota itu sehingga aromanya selalu menyeruak direlung hati?

Yang Aku tau, Kota itu mengajarkanku tentang kelembutan dan kerendahan hati, arti sebuah senyum tulus, dan keindahan tutur kata manis.

Baiklah!

Demi rasa rindu yang kian menggunung dan demi kilasan-kilasan memori yang tak terbendung, akan kutuliskan dalam agenda perjalananku pada 2010 mendatang untuk menjenguknya.

Menjenguk Jogja!

Menjenguk Jogja kembali bersama seseorang yang akan kuperkenalkan kepadanya bukan lagi sebagai kekasih seperti yang Jogja ketahui dulu. Tapi sebagai pasangan hidupku selamanya. Amin. :)

Saat itu, Aku dan mungkin dirinya akan sangat berterimakasih pada Jogja karena telah menjadi saksi bisu pertemuan Kami dulu. :)

Tunggu Kedatangan Kami, JOGJA!


Tempat makan WAJIB kunjung :

  1. SS – SuperSambal, cesss! Tempat makan penuh sambal dengan berbagai tipe yang sangat kami suka. Masih kuingat apa menu favorit Kami disini : Empal Sapi Goreng, Sambal Terasi Mentah & Sambal Bawang yang sangat pedassss – untukku, Sambal Bawang Tomat yang tak terlalu pedas – untuknya, Seporsi Terancam, dan Sebakul Nasi tentunya!
  2. Bakso Bawor, hwaaaa! Menurut Kami, ini adalah bakso terenak yang pernah ada selama Kami hidup apalagi kriuk bakso gorengnya yang khas serta sambalnya yang mantap! Masih ingat kebiasaan Kami masing-masing : tambahan semangkuk bakso goreng – kebiasaannya, pencampuran kecap dan sambal serta tambahan kuah – kebiasaanku!
  3. Bees, sebenarnya ini makanan khas Jepang dan tempatnya pun di Mall, tapi setahuku tak ada makanan khas Jepang yang bersahabat dilidahku selain ini bahkan sekelas Hoka-hoka Bento sekalipun. (hahay! mungkin karena lidahku yang sangat Indonesia sekali)
  4. Warung Makan Bu Rahmisyah, hmmmmm.. warung makan padang favorit dengan rasanya yang sunguh berbeda.. ringan dan gurih! tidak seberat makanan padang pada umumnya. Menu favorit disini adalah Ayam Sambel + Tempe Gorengnya.. huhuhu kangen!
  5. Bebek Goreng (dibawah jembatan lempuyangan, lupa namanya!), ini dia bebek goreng yang ter-enak. Tempat makan favorit keluargaku juga! Terbayang dulu kagetnya Ortu ketika mau bayar, bukan kaget karena mahal tapi kaget karna terlalu murah untuk makan keroyokan! :D


Secangkir Teh dan Sepotong Cake

Hanya ingin sedikit berbagi. Entah kapan tepatnya, mendengar kalimat ini :

Manis, tidak akan terasa manis sebelum mengecap yang pahit.

Pada saat itu, aku tak tahu persis apa sesungguhnya “makna” yang terkandung dalam kalimat ini. Mungkin, seperti ini ilustrasi yang kubayangkan saat itu :

secangkir teh manis hangat

 

sepotong cake , manis tentunya
Ketika kita minum teh manis hangat pasti rasa manis dan segar yang kita rasakan fwahhh!. Dan ketika kita melirik disebelahnya ada sepotong cake manis tak sabar lidah ini ingin mengecapnya. happp! nyam~nyam!, oooppz! ternyataaa. Rasanya tak semanis yang kita kira! Hambar! Ternyata, lidah kita tidak bisa berurutan memakan yang manis.

 

Sekarang, disaat diri ini merasa bertambah dewasa. Dan sedikit-sedikit bisa berpikir bijak dan menyikapi sesuatu secara dalam bukan hanya permukaan. Entah sejak kapan tepatnya , menyadari : ada hikmah yang sangat bijak terkandung pada kalimat tersebut. Indah. Sungguh indah!

Dalam hidup, tidaklah mungkin hanya ada satu rasa. Percaya bahwa Allah sangatlah adil. Tidak mungkin DIA membiarkan umat-NYA hanya sebagian yang merasakan 100% kebahagiaan dan sebagian lagi hanya bergelut dengan kesedihan. Itulah hidup dan kehidupan. Berputar bak roda yang berputar untuk mencapai suatu tujuan. Kadang diatas, kadang dibawah.

Ketika kita diberi kebahagiaan, kemudian diberi lagi, lagi, dan lagi, maka kebahagiaan tersebut juga akan terasa hambar. Tidak ada yang istimewa dari hidup kita dan akhirnya terkadang kita menjadi lupa kepada Sang Pemberi Kebahagiaan karena kebahagiaan tersebut seakan hilang nikmatnya. Disitulah titik dimana pahitnya hidup seakan berguna. Aku, yakin bahwa ketika ketidak-enakan (halusnya begitu) dalam hidup hadir dan kita bisa menyikapinya dengan bijak. Maka kita tidak akan lupa rasa manisnya kebahagiaan yang pasti akan terasa sangaaaaatttt manis (walaupun kadar manisnya sama seperti sebelumnya). Dari itu pula, kita akan terjaga. Terjaga untuk bersyukur akan kenikmatan hidup yang DIA berikan. Alhamdulillah. :)

:: Tulisan ini, khusus aku persembahkan untuk Papa yg sedang sakit yang mungkin karena sedikit shock dengan keadaan anaknya ini. (Tenang Pa, anakmu ini baik-baik saja. Sungguh. Cepat sembuh Pa!).

Hidup itu keras kawan!

Hidup itu keras kawan!

Belajarlah melenturkannya.

Karena mati bukan pilihan, tapi ketentuan.

(vivilicious, 2009)

Friendly Leadership :)

Lewat blog ini aku hanya ingin berbagi tanpa tendensi apapun. :)
Selama 24 tahun hidup, begitu banyak tipe kepemimpinan yang aku lihat, rasakan, dan dengarkan (lewat cerita beberapa rekan) karena itulah tergerak untuk menuangkannya dalam bentuk entah apalah ini namanya? coretan mungkin.

 

Iseng-iseng googling menemukan gambar ini :

http://www.womenpr.com/site/images/stories/leadership.jpg

 

Melihat gambar ini sepertinya sangat terlihat adanya ketidaksejajaran karena tidak berada di satu sisi/bidang yang sama yaitu dengan adanya sisi/bidang atas dan sisi/bidang bawah. Tidak ada istilah “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”. Terbayang betapa kalimat “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” sepertinya tak berlaku. Mengingatkanku pada Sistem Romusha pada penjajahan Jepang. Fyuwh!

Mengapa hal tersebut terjadi? Apakah dengan cara itu masalah cepat terselesaikan? Apakah dengan cara itu target/goal/tujuan bersama akan tercapai? entahlah, hanya ’sang atasan’ lah yang tau jawabannya karena acapkali apapun pendapat dari ’sang atasan’, ’sang bawahan’ tidak boleh menentang dan cenderung tidak mengerti betul apa maksud sang atasan.

Apa yang melatarbelakangi ’sang atasan’ bersikap seperti itu? Apakah karena mereka dulunya ketika jadi bawahan diperlakukan seperti itu? atau mereka belum pernah menjadi ’sang bawahan’ yg keberatan memikul beban sehingga cenderung sulit berempati? Hmmm.. Entahlah, apapun latarbelakangnya hal tersebut kurang bijak dilakukan (menurutku). Hal ini mengakibatkan ’sang bawahan’ melakukan apapun karena ‘harus’ bukan karena ‘ingin’ sehingga cenderung tidak tulus dan tidak ikhlas. Nah, otomatis hasil yang dicapai pun tidak maksimal dan tidak optimal.

Iseng-iseng (lagi) googling gambar pembandingnya dan menemukan gambar ini :

http://wf360.typepad.com/.a/6a00d83452408569e20115704b8dd0970b-400wi

 

Sangat kontras dengan gambar sebelumnya, gambar ini tergolong manusiawi. Berdiri sama tinggi dan sama-sama ringan karena sama-sama tidak dibebani/membebani apapun. Rasa empati yang muncul dan mendominasi membuat segalanya lebih mudah.

Entah mengapa, menurutku dengan kebersamaan, kekeluargaan, saling mengerti, saling memahami supervisi menjadi mudah dilakukan, ketulusan muncul dengan mudah sehingga tujuan/goal/target mudah dicapai. Dalam hal ini, komunikasi dua arah yang merupakan kunci penting dari suatu hubungan atau komunitas pun berhasil dilakukan.

Dengan ini, kewibawaan, kebijakan, dan kepintaran dari sang pemimpin akan muncul sendiri tanpa harus dipaksakan dan prestasi yang dipimpin pun menyeruak sendiri tanpa perlu dirobek.
Betapa indahnya! kuberi nama : FRIENDLY LEADERSHIP . :)

:: didedikasikan untuk semua pemimpin dan calon pemimpin semoga bisa menambah kaidah kepemimpinan yang baik.

vivilicious (c) 2009