Hanya ingin sedikit berbagi. Entah kapan tepatnya, mendengar kalimat ini :
Manis, tidak akan terasa manis sebelum mengecap yang pahit.
Pada saat itu, aku tak tahu persis apa sesungguhnya “makna” yang terkandung dalam kalimat ini. Mungkin, seperti ini ilustrasi yang kubayangkan saat itu :
Sekarang, disaat diri ini merasa bertambah dewasa. Dan sedikit-sedikit bisa berpikir bijak dan menyikapi sesuatu secara dalam bukan hanya permukaan. Entah sejak kapan tepatnya , menyadari : ada hikmah yang sangat bijak terkandung pada kalimat tersebut. Indah. Sungguh indah!
Dalam hidup, tidaklah mungkin hanya ada satu rasa. Percaya bahwa Allah sangatlah adil. Tidak mungkin DIA membiarkan umat-NYA hanya sebagian yang merasakan 100% kebahagiaan dan sebagian lagi hanya bergelut dengan kesedihan. Itulah hidup dan kehidupan. Berputar bak roda yang berputar untuk mencapai suatu tujuan. Kadang diatas, kadang dibawah.
Ketika kita diberi kebahagiaan, kemudian diberi lagi, lagi, dan lagi, maka kebahagiaan tersebut juga akan terasa hambar. Tidak ada yang istimewa dari hidup kita dan akhirnya terkadang kita menjadi lupa kepada Sang Pemberi Kebahagiaan karena kebahagiaan tersebut seakan hilang nikmatnya. Disitulah titik dimana pahitnya hidup seakan berguna. Aku, yakin bahwa ketika ketidak-enakan (halusnya begitu) dalam hidup hadir dan kita bisa menyikapinya dengan bijak. Maka kita tidak akan lupa rasa manisnya kebahagiaan yang pasti akan terasa sangaaaaatttt manis (walaupun kadar manisnya sama seperti sebelumnya). Dari itu pula, kita akan terjaga. Terjaga untuk bersyukur akan kenikmatan hidup yang DIA berikan. Alhamdulillah.
:: Tulisan ini, khusus aku persembahkan untuk Papa yg sedang sakit yang mungkin karena sedikit shock dengan keadaan anaknya ini. (Tenang Pa, anakmu ini baik-baik saja. Sungguh. Cepat sembuh Pa!).


