Arsip untukcorat-coret hidup

Merindu Jogja!

Sudah lebih dari setahun berlalu. Sungguh saat ini suasana Jogja sangat kurindu. JOGJA, JOGJA, JOGJA!

Semua tentang Jogja.

Tentang sebuah pertemuan.

Tentang sebuah perkenalan.

Tentang sebuah hubungan.

Tentang KITA.

Juga tentang persahabatan.

Jogja

Jogja

Entah apa istimewanya Kota itu sehingga aromanya selalu menyeruak direlung hati?

Yang Aku tau, Kota itu mengajarkanku tentang kelembutan dan kerendahan hati, arti sebuah senyum tulus, dan keindahan tutur kata manis.

Baiklah!

Demi rasa rindu yang kian menggunung dan demi kilasan-kilasan memori yang tak terbendung, akan kutuliskan dalam agenda perjalananku pada 2010 mendatang untuk menjenguknya.

Menjenguk Jogja!

Menjenguk Jogja kembali bersama seseorang yang akan kuperkenalkan kepadanya bukan lagi sebagai kekasih seperti yang Jogja ketahui dulu. Tapi sebagai pasangan hidupku selamanya. Amin. :)

Saat itu, Aku dan mungkin dirinya akan sangat berterimakasih pada Jogja karena telah menjadi saksi bisu pertemuan Kami dulu. :)

Tunggu Kedatangan Kami, JOGJA!


Tempat makan WAJIB kunjung :

  1. SS – SuperSambal, cesss! Tempat makan penuh sambal dengan berbagai tipe yang sangat kami suka. Masih kuingat apa menu favorit Kami disini : Empal Sapi Goreng, Sambal Terasi Mentah & Sambal Bawang yang sangat pedassss – untukku, Sambal Bawang Tomat yang tak terlalu pedas – untuknya, Seporsi Terancam, dan Sebakul Nasi tentunya!
  2. Bakso Bawor, hwaaaa! Menurut Kami, ini adalah bakso terenak yang pernah ada selama Kami hidup apalagi kriuk bakso gorengnya yang khas serta sambalnya yang mantap! Masih ingat kebiasaan Kami masing-masing : tambahan semangkuk bakso goreng – kebiasaannya, pencampuran kecap dan sambal serta tambahan kuah – kebiasaanku!
  3. Bees, sebenarnya ini makanan khas Jepang dan tempatnya pun di Mall, tapi setahuku tak ada makanan khas Jepang yang bersahabat dilidahku selain ini bahkan sekelas Hoka-hoka Bento sekalipun. (hahay! mungkin karena lidahku yang sangat Indonesia sekali)
  4. Warung Makan Bu Rahmisyah, hmmmmm.. warung makan padang favorit dengan rasanya yang sunguh berbeda.. ringan dan gurih! tidak seberat makanan padang pada umumnya. Menu favorit disini adalah Ayam Sambel + Tempe Gorengnya.. huhuhu kangen!
  5. Bebek Goreng (dibawah jembatan lempuyangan, lupa namanya!), ini dia bebek goreng yang ter-enak. Tempat makan favorit keluargaku juga! Terbayang dulu kagetnya Ortu ketika mau bayar, bukan kaget karena mahal tapi kaget karna terlalu murah untuk makan keroyokan! :D


Secangkir Teh dan Sepotong Cake

Hanya ingin sedikit berbagi. Entah kapan tepatnya, mendengar kalimat ini :

Manis, tidak akan terasa manis sebelum mengecap yang pahit.

Pada saat itu, aku tak tahu persis apa sesungguhnya “makna” yang terkandung dalam kalimat ini. Mungkin, seperti ini ilustrasi yang kubayangkan saat itu :

secangkir teh manis hangat

 

sepotong cake , manis tentunya
Ketika kita minum teh manis hangat pasti rasa manis dan segar yang kita rasakan fwahhh!. Dan ketika kita melirik disebelahnya ada sepotong cake manis tak sabar lidah ini ingin mengecapnya. happp! nyam~nyam!, oooppz! ternyataaa. Rasanya tak semanis yang kita kira! Hambar! Ternyata, lidah kita tidak bisa berurutan memakan yang manis.

 

Sekarang, disaat diri ini merasa bertambah dewasa. Dan sedikit-sedikit bisa berpikir bijak dan menyikapi sesuatu secara dalam bukan hanya permukaan. Entah sejak kapan tepatnya , menyadari : ada hikmah yang sangat bijak terkandung pada kalimat tersebut. Indah. Sungguh indah!

Dalam hidup, tidaklah mungkin hanya ada satu rasa. Percaya bahwa Allah sangatlah adil. Tidak mungkin DIA membiarkan umat-NYA hanya sebagian yang merasakan 100% kebahagiaan dan sebagian lagi hanya bergelut dengan kesedihan. Itulah hidup dan kehidupan. Berputar bak roda yang berputar untuk mencapai suatu tujuan. Kadang diatas, kadang dibawah.

Ketika kita diberi kebahagiaan, kemudian diberi lagi, lagi, dan lagi, maka kebahagiaan tersebut juga akan terasa hambar. Tidak ada yang istimewa dari hidup kita dan akhirnya terkadang kita menjadi lupa kepada Sang Pemberi Kebahagiaan karena kebahagiaan tersebut seakan hilang nikmatnya. Disitulah titik dimana pahitnya hidup seakan berguna. Aku, yakin bahwa ketika ketidak-enakan (halusnya begitu) dalam hidup hadir dan kita bisa menyikapinya dengan bijak. Maka kita tidak akan lupa rasa manisnya kebahagiaan yang pasti akan terasa sangaaaaatttt manis (walaupun kadar manisnya sama seperti sebelumnya). Dari itu pula, kita akan terjaga. Terjaga untuk bersyukur akan kenikmatan hidup yang DIA berikan. Alhamdulillah. :)

:: Tulisan ini, khusus aku persembahkan untuk Papa yg sedang sakit yang mungkin karena sedikit shock dengan keadaan anaknya ini. (Tenang Pa, anakmu ini baik-baik saja. Sungguh. Cepat sembuh Pa!).

Friendly Leadership :)

Lewat blog ini aku hanya ingin berbagi tanpa tendensi apapun. :)
Selama 24 tahun hidup, begitu banyak tipe kepemimpinan yang aku lihat, rasakan, dan dengarkan (lewat cerita beberapa rekan) karena itulah tergerak untuk menuangkannya dalam bentuk entah apalah ini namanya? coretan mungkin.

 

Iseng-iseng googling menemukan gambar ini :

http://www.womenpr.com/site/images/stories/leadership.jpg

 

Melihat gambar ini sepertinya sangat terlihat adanya ketidaksejajaran karena tidak berada di satu sisi/bidang yang sama yaitu dengan adanya sisi/bidang atas dan sisi/bidang bawah. Tidak ada istilah “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”. Terbayang betapa kalimat “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” sepertinya tak berlaku. Mengingatkanku pada Sistem Romusha pada penjajahan Jepang. Fyuwh!

Mengapa hal tersebut terjadi? Apakah dengan cara itu masalah cepat terselesaikan? Apakah dengan cara itu target/goal/tujuan bersama akan tercapai? entahlah, hanya ’sang atasan’ lah yang tau jawabannya karena acapkali apapun pendapat dari ’sang atasan’, ’sang bawahan’ tidak boleh menentang dan cenderung tidak mengerti betul apa maksud sang atasan.

Apa yang melatarbelakangi ’sang atasan’ bersikap seperti itu? Apakah karena mereka dulunya ketika jadi bawahan diperlakukan seperti itu? atau mereka belum pernah menjadi ’sang bawahan’ yg keberatan memikul beban sehingga cenderung sulit berempati? Hmmm.. Entahlah, apapun latarbelakangnya hal tersebut kurang bijak dilakukan (menurutku). Hal ini mengakibatkan ’sang bawahan’ melakukan apapun karena ‘harus’ bukan karena ‘ingin’ sehingga cenderung tidak tulus dan tidak ikhlas. Nah, otomatis hasil yang dicapai pun tidak maksimal dan tidak optimal.

Iseng-iseng (lagi) googling gambar pembandingnya dan menemukan gambar ini :

http://wf360.typepad.com/.a/6a00d83452408569e20115704b8dd0970b-400wi

 

Sangat kontras dengan gambar sebelumnya, gambar ini tergolong manusiawi. Berdiri sama tinggi dan sama-sama ringan karena sama-sama tidak dibebani/membebani apapun. Rasa empati yang muncul dan mendominasi membuat segalanya lebih mudah.

Entah mengapa, menurutku dengan kebersamaan, kekeluargaan, saling mengerti, saling memahami supervisi menjadi mudah dilakukan, ketulusan muncul dengan mudah sehingga tujuan/goal/target mudah dicapai. Dalam hal ini, komunikasi dua arah yang merupakan kunci penting dari suatu hubungan atau komunitas pun berhasil dilakukan.

Dengan ini, kewibawaan, kebijakan, dan kepintaran dari sang pemimpin akan muncul sendiri tanpa harus dipaksakan dan prestasi yang dipimpin pun menyeruak sendiri tanpa perlu dirobek.
Betapa indahnya! kuberi nama : FRIENDLY LEADERSHIP . :)

:: didedikasikan untuk semua pemimpin dan calon pemimpin semoga bisa menambah kaidah kepemimpinan yang baik.

vivilicious (c) 2009

Dan Tersenyumlah, Maka Seluruh Dunia Akan Tersenyum Padamu..

A smile is a curve that sets everything straight. ~Phyllis Diller~

Ketika kaki melangkah lunglai, disaat malam mulai menjejak bumi. Dan suara azan mengalun merdu, menyapa telinga melalui deru angin senja. Terasa sendu. Seorang perempuan (sebut saja begitu), merunduk, bukan malu, bukan pula takut. Rapuh, lara, dan haru membiru larut di suatu tempat yang dalam di dadanya. Hati, mungkin. Matanya seakan perih dan berkaca, hatinya memaksa matanya bereaksi begitu, batinnya.

Entah apa yang membuatnya begitu? Tapi tunggu dulu! Hanya 5 suara jejak langkah yang terdengar dari kakinya. Kepalanya mendongak menatap langit. Mendongak, bukan sombong, bukan pula angkuh. Tunggu! (lagi-lagi) Ada yang ajaib. Matanya yang tadi perih dan berkaca hingga hampir saja butiran bening meluncur di pipinya yg menekuk kebawah (lagi-lagi semuanya atas perintah hati) menjadi berbinar dan pipi membulat berseri. Apa kira-kira yang membuatnya berubah seketika? Tenyata, senyuman yang terukir dari bibirnya.

Perempuan itu, baru menyadari. Keajaiban senyuman. Yang lain, selain membentuk keindahan pada wajah dan sadaqah yang paling murah. Senyuman. Pada saat itu bergerak melalui dua jalur secara bersamaan. Jalur pertama, memberikan ketenangan bagi hatinya. Jalur kedua, lekukan pipi pada saat tersenyum memberi tekanan pada mata.

Iya! Ternyata pipi yang membulat akibat tarikan bibir yg sedang tersenyum tersebut berfungsi menahan mata sehingga air yang berada pada mata tidak tumpah dan mengalir menelusuri pipi. Kedua jalur tersebut membentuk kombinasi yang maha sempurna. Maha sempurna untuk menghilangkan gurat kesedihan! Subhanallah! Mungkin itu, mengapa lekukan senyum itu melengkung dengan sudut bibir terangkat keatas. Bukan kebawah. Karena jika kebawah maka airnya tumpah ruah tidak tertahan.

Seperti ini bedanya :

Lekukan bibir saat tersenyum

Lekukan bibir saat tersenyum

Lekukan bibir saat bersedih

Lekukan bibir saat bersedih

Jadi, bungkus kesedihan dengan senyuman. Tersenyumlah! Dan seluruh dunia akan tersenyum padamu! :)

Utak-atik Adobe Photoshop dan PhotoScape [Part I]

Beberapa hari yang lalu, iseng-iseng liat foto-foto di folder vi’s picture tidak sengaja menemukan ni foto. Menarik. Tapi rasanya ingin coba-coba diperbaiki agar lebih ceria. Coba di-edit akh!

b e f o r e

before

before

Menurutkuuuu, foto ini kurang hidup, kurang tegas, kurang greget tapi overall setting-nya bagus, seperti sengaja dikondisikan. Karena itulah aku pilih foto ini untuk di-makeover. Sedikit sih, tapi lumayan-lah. Begini hasilnya :

a f t e r

after

after

Gimana hasilnya? lumayan-lah yaaa.. haha! :D

Relationship Officer (RO)

Relationship Officer, secara harfiah:

Relationship adalah Hubungan, Pertalian, Persahabatan.

Officer adalah Karyawan, Pegawai.

Itulah pertama kali Saya menyimpulkan arti kata Relationship Officer ketika Saya mengikuti job interview di salah satu Bank Nasional di Negeri ini. Yah, intinya sih suatu pekerjaan dimana job desc-nya adalah menjaga relasi atau hubungan, baik itu intra-perusahaan ataupun inter-perusahaan. Setelah mengetahui maknanya Saya sangat senang karena sangat cocok dengan karakter Saya [Perhaps] yang sangat senang berteman, memperluas network, dan bertemu banyak orang.

Akan tetapi, setelah benar-benar melakukan tahap interview Saya bingung dan kagok karena pertanyaan yang diajukan oleh pewawancaranya bukan tentang hubungan ataupun relationship melainkan tentang perkreditan. Duarrrr!! [kaget!]. Fyuhhhh! Perkreditan!!!? Sungguh jauh dari apa yang Saya bayangkan sebelumnya. Dunia yang sama sekali asing bagi Saya [FYI, background kuliah Saya adalah Teknik Industri].

Pertanyaan pertama, “Apa yang Anda ketahui tentang Kredit?”. Tau apa jawaban Saya?? Saya menjawab Kredit itu dengan pengertian Kartu Kredit [gyaaaaaaa!! Malu Sayaaaa!]. Untungnya para pewawancara mengarahkan Saya bahwa maksud pertanyaan tersebut adalah kearah Kredit Usaha, dengan raut wajah merah karena malu Saya meminta maaf. Berharap dengan bersembunyi dibalik background Teknik kebodohan dari jawaban Saya dimaklumi. [hahaha!] Kemudian Saya dengan sukses mengarang bebas menjawab pertanyaan demi pertanyaan tentang perkreditan sambil dalam hati berharap wawancara ini cepat berlalu. Dan ternyata doa Saya terkabul. Keluar dari ruang wawancara Saya benar-benar pesimis terhadap hasil dari test tersebut. Kemudian berusaha melupakan peluang kelulusan Saya di Bank tersebut.

Selang beberapa hari, Saya diberi kabar bahwa SAYA LULUS ke tahap selanjutnya. [Hwaaaaaaa!] Rasanya tidak percaya lho, tapi ternyata benar adanya.

Ternyata, dari tahapan test selanjutnya Saya dapat informasi bahwa Relationship Officer itu nama lainnya adalah Credit Analyst. Jadi, Relationship Officer bekerja menganalisis kelayakan usaha dari Perusahaan/Perorangan yang akan mengajukan kredit ke Bank. Dimana kelayakan tersebut dilihat dari 5C yaitu Character, Capability, Capital, Condition of Economy, Collateral.

[hahahaha!] ternyata agak jauh ya dari yang Saya bayangkan sebelumnya. Yah, ada kaitannya bahwa Relationship disini adalah penghubung antara Kreditur (Bank) yang memberikan pinjaman dan Debitur (Perusahaan/Perorangan) yang mendapatkan pinjaman dari Kreditur (Bank).

Semoga tidak ada lagi yang salah makna seperti ini nantinya. :)

Kembali Menulis..

Kembali Menulis..

Jujur.. Agak kagok juga nih diriku.. Setelah lama meninggalkan apa yang baru saja dimulai..

Kayak orang yang dah lama ga olahraga jadi ketika memulai olahraga harus melakukan pemanasan terlebih dahulu.. Begitulah diriku sekarang.. memulai menulis huruf per huruf, merangkai kata demi kata sehingga menjadi untaian kalimat yang sarat makna.. Semoga benar-benar bermakna.. Setidaknya demi diriku sendiri, untuk menyemangati memulai menulis lagi.. Sehingga di tulisan selanjutnya menjadi benar-benar bermakna buat orang lain..

*hufff, serius sekali sepertinya jadi malu aja*

Oya, ditulisanku sebelumnya Habis Gelap Terbitlah Terang….! Habis Lulus….? aku bercerita sekilas tentang kebingunganku setelah lulus kuliah dan sebelum mendapatkan pekerjaan.. Ditulisan ini aku hanya ingin melanjutkan kalimatnya.. Habis gelap terbitlah terang.. Habis lulus.. Akhirnya aku bekerja di salah satu Bank Nasional di Negeri kita tercinta ini sebagai Analis Kredit Usaha Kecil.. Mungkin ini saja dulu, sekedar pemanasan.. Ingin sekali berbagi cerita tentang pengalamanku di pekerjaan ini.. Insya Allah akan segera tayang di tulisan-tulisan selanjutnya.. Semoga.. (^^,)

Habis Gelap Terbitlah Terang….! Habis Lulus….?

Ternyata benar apa yang beberapa teman ucapkan… Hampir setiap mahasiswa tingkat akhir mengejar waktu LULUS dengan bersemangat, cari bahan-menghadap dosen-cari data-lembur. Jadwal penuh. Rasanya bermain-main, melakukan aktivitas yang fun menjadi impian.

Skripsi kelar. Pendadaran kelar. Urus-urus administrasi kelar. Setelah itu?. Bingung. Kaget. Terlalu banyak senggang setelah berlama-lama sibuk.

Haaahhhhhhhhh…..Berharap semoga, secepatnya status ‘Jobseeker’ lepas dari nama belakangku….amin….

You are educated. Your certification is in your degree. You may think of it as the ticket to the good life. Let me ask you to think of an alternative. Think of it as your ticket to change the world.

–Tom Brokaw–

When I Was Child…

Melihat gambar diatas, mengingatkan pada pengalaman masa kecil… “Ayo anak-anak, sekarang pelajaran menggambar… Buka buku gambar kalian masing-masing yaaa…!” Dengan semangat menggebu-gebu sebagian anak-anak (sudah tentu salah satunya Saya…) tersenyum senang. Sang guru melanjutkan, “Ayo kita menggambar pemandangan yaaa…!”. PEMANDANGAN. Yang terlintas di pikiran sebagian anak-anak adalah :

  • Gambar dua buah gunung,
  • Dengan matahari menyembul diantara dua gunung tersebut,
  • Tak lupa dengan awan biru yang menggumpal,
  • Tambahkan beberapa burung dengan bentuk ‘w terbalik’,
  • Dan satu lagi yang paling penting, PADI! Dengan membuat huruf ‘V’ dan ditarik garis lurus diantara huruf V tersebut. Jadilah PADI.

Sekarang, ketika kembali mengingatnya. Saya baru sadar, dari mana ketetapan bahwa gambar pemandangan adalah seperti diatas. Secara spontan hampir seluruh anak menggambar yang sama. Jujur saja, di daerah Saya sama sekali tidak ada pedesaan dengan sawah terhampar sehingga Saya bingung darimana ide tersebut muncul?.”Duniaaa Khayaaal…!”.

Ketika hal ini diperbincangkan lagi bersama teman kuliah, ternyata sebagian mereka (yang berasal dari belahan nusantara yang berbeda) melakukan hal yang sama. Lucu. Ternyata anak Indonesia (pada zaman itu) sangat kompak ya?. Bhineka Tunggal Ika. Berbeda-beda domisili, GAMBAR PEMANDANGANNYA tetap sama. Bagaimana dengan Anak SD di zaman sekarang ya?