Life Lessons · Work Life

Friendly Leadership :)

Lewat blog ini aku hanya ingin berbagi tanpa tendensi apapun.πŸ™‚
Selama 24 tahun hidup, begitu banyak tipe kepemimpinan yang aku lihat, rasakan, dan dengarkan (lewat cerita beberapa rekan) karena itulah tergerak untuk menuangkannya dalam bentuk entah apalah ini namanya? coretan mungkin.Iseng-iseng googling menemukan gambar ini :

http://www.womenpr.com/site/images/stories/leadership.jpg

Melihat gambar ini sepertinya sangat terlihat adanya ketidaksejajaran karena tidak berada di satu sisi/bidang yang sama yaitu dengan adanya sisi/bidang atas dan sisi/bidang bawah. Tidak ada istilah “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi”. Terbayang betapa kalimat “Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul” sepertinya tak berlaku. Mengingatkanku pada Sistem Romusha pada penjajahan Jepang. Fyuwh!

Mengapa hal tersebut terjadi? Apakah dengan cara itu masalah cepat terselesaikan? Apakah dengan cara itu target/goal/tujuan bersama akan tercapai? entahlah, hanya ‘sang atasan’ lah yang tau jawabannya karena acapkali apapun pendapat dari ‘sang atasan’, ‘sang bawahan’ tidak boleh menentang dan cenderung tidak mengerti betul apa maksud sang atasan.

Apa yang melatarbelakangi ‘sang atasan’ bersikap seperti itu? Apakah karena mereka dulunya ketika jadi bawahan diperlakukan seperti itu? atau mereka belum pernah menjadi ‘sang bawahan’ yg keberatan memikul beban sehingga cenderung sulit berempati? Hmmm.. Entahlah, apapun latarbelakangnya hal tersebut kurang bijak dilakukan (menurutku). Hal ini mengakibatkan ‘sang bawahan’ melakukan apapun karena ‘harus’ bukan karena ‘ingin’ sehingga cenderung tidak tulus dan tidak ikhlas. Nah, otomatis hasil yang dicapai pun tidak maksimal dan tidak optimal.

Iseng-iseng (lagi) googling gambar pembandingnya dan menemukan gambar ini :

https://yelindaselvyana.files.wordpress.com/2009/10/e3004-6a00d83452408569e20115704b8dd0970b-400wi.jpg

Sangat kontras dengan gambar sebelumnya, gambar ini tergolong manusiawi. Berdiri sama tinggi dan sama-sama ringan karena sama-sama tidak dibebani/membebani apapun. Rasa empati yang muncul dan mendominasi membuat segalanya lebih mudah.

Entah mengapa, menurutku dengan kebersamaan, kekeluargaan, saling mengerti, saling memahami supervisi menjadi mudah dilakukan, ketulusan muncul dengan mudah sehingga tujuan/goal/target mudah dicapai. Dalam hal ini, komunikasi dua arah yang merupakan kunci penting dari suatu hubungan atau komunitas pun berhasil dilakukan.

Dengan ini, kewibawaan, kebijakan, dan kepintaran dari sang pemimpin akan muncul sendiri tanpa harus dipaksakan dan prestasi yang dipimpin pun menyeruak sendiri tanpa perlu dirobek.
Betapa indahnya! kuberi nama : FRIENDLY LEADERSHIP .πŸ™‚

:: didedikasikan untuk semua pemimpin dan calon pemimpin semoga bisa menambah kaidah kepemimpinan yang baik.

vivilicious (c) 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s