Pregnancy Story

Kehamilanku

“Apakah Ibu hamil?”
“YA. Saya bisa pastikan, ya Ibu hamil”
“Apakah kehamilan Ibu normal?”
“90% Saya nyatakan kehamilan Ibu tidak normal”

Hening.

Obgyn tsb melakukan monolog melalui ucapannya tapi berdialog dengan kami melalui bahasa tubuh dan mimik mukanya.

Aku hanya merasakan tatapan mataku kosong dan nanar malam itu. Entah perasaan suamiku.

Hatiku lara, kalut, biru, hampa walau terselip lega.

Lega karena pertanyaan yg diriku sendiri selalu pertanyakan akhir-akhir ini tentang hantu bernama Blighted Ovum di kehamilanku kedua kali ini akhirnya terjawab. Meskipun menyakitkan dan menyayat hati.

Kutahan air mata dukaku. Kudengarkan dengan sabar penjelasan obgyn ini tentang kehamilan kali ini dan perencanaan kehamilan berikutnya. Setelah 1 jam lamanya, kudapatkan ending dari ‘khotbah’ sang Dokter di malam ke-3 bulan Ramadhan tahun ini. Sekeluarnya dari ruangan air mata ini pun seakan memaksa ingin keluar, tumpah ruah. Sementara suami menyelesaikan administrasi dan biaya konsultasi di klinik ini akupun berlari kecil keluar dari klinik, berlomba-lomba dengan laju air mata.

Byar!!!

Tumpah sudah bendungan air mata yg sedari tadi tertahan. Hingga akhirnya diriku dan suamiku menaiki mobil melesat menembus malam menuju rumah kami. Dengan alunan sendu tangisku sebagai soundtrack-nya.

Bertubi-tubi didera masalah kehamilan dan kesehatan seperti ini, kusadari bahwa aku menikahi pria berhati malaikat. Yang ucapannya penuh kebijaksanaan, tatapan matanya teduh menenangkan, menyabarkan dan mengokohkan badannya untukku bersandar walau di saat yang sama Ia pun bisa dipastikan terluka. Alhamdulillah.

Kali ini saatnya hatiku bermonolog. Dan dengan-Mu Allah aku mencoba berdialog. Juga denganmu, buah hatiku yang masih malu-malu bertemu denganku.

Untuk-Mu Tuhanku..

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

Terima kasih atas segala berkah, rahmat, hidayah yang telah selalu dengan murah hati-Mu engkau berikan padaku ya Allah.

Tak terhitung banyaknya kebahagiaan yang telah kau hadirkan di kehidupanku.

Terima kasih, Engkau memberikan ujian dan permasalahan kepadaku.

Insha Allah, hal ini tidak akan melunturkan keyakinanku kepada-Mu, keyakinan pada Qada dan Qadar-Mu.

Semoga hamba segera bisa memetik hikmah dan mendapatkan makna yang terselip dari ujian yang Engkau berikan ya Allah.

Dengan keterbatasan akalku ini, aku tak mampu membaca perjalanan hidupku setelah ini.

Namun, hanya dengan keyakinan ini, aku tahu Engkau telah mempersiapkan skenario yang maha indah untuk kami. Insha Allah.

Terselip asa, di sini.

Hamba mendambakan 9 bulan mengandung buah hati hamba.

Merasakan sosok mungil yang perlahan membesar di rahim hamba.

Merasakan sosok mungil itu mengetuk-ngetuk perut besarku.

Merasakan ia berputar-putar di rahimku.

Merasakan kenikmatan menjadi calon ibu.

Melahirkannya dan membesarkannya.

Mendidiknya sesuai dengan tuntunan-Mu ya Allah.

Amin.

 

Untukmu, (calon) anakku..

Di sudut malam aku mencoba memanggilmu.

“Nak..”

Belum bisa kupastikan keberadaanmu saat itu.

Tapi tak menyulutkan sedikitpun rasa sayangku kepadamu.

“Mami sangat ingin bertemu denganmu”

Kucoba membayangkan senyummu walau semu.

“Mami dan Papi di sini menunggu kehadiranmu. Kapanpun kau siap menemui kami di sini.”

“Nak, dimanapun kau berada saat ini, semoga Engkau mendengar betapa kami merindu ingin bertemu.”

“Semoga segera tiba saatnya, engkau tak lagi ragu memilih kami sebagai orang tuamu ya nak.”

“Mami dan Papi menyayangimu.”

:’)

 

5 thoughts on “Kehamilanku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s