Husband and Wife Story

Belajar optimis darinya..

Di suatu senja di warung mie ayam.

“Udah baca sms tadi mengenai tawaran dari Perusahaan X?” Ia bertanya dengan menggebu-gebu.
Belum sempat aku menjawab – karena aku tahu itu hanya pertanyaan pembuka – dia melanjutkan,

“Tapi posisi yg ditawarkan tetap sama, hanya benefitnya sedikit ditingkatkan dari penawaran yg dulu itu.”
“Oh sama aja ya?” ujarku, sekedar untuk mengapresiasi semangatnya bercerita.

“Tapi tawaran si Pak H gimana tuh ya say?” tanyanya lg.

“Tadi si Pak H menghubungi lagi apakah aku berminat pindah ke divisinya dengan grade lebih tinggi dan blablabla tapi blablabla”.

Setelah dia puas bercerita dengan sangat antusiasnya itu dan akupun sudah menjawab dengan berpendapat dan menyerahkan semua keputusan akhir di dirinya, tiba-tiba terlintaslah pertanyaan-pertanyaan bodoh :p yang membuat dialog kami seperti dialog – seorang – jurnalist – mewawancarai – figur – orang – sukses – untuk – dimuat – di – kolom – majalah. hihihi.

Saya : “Sebenernya, yang kamu cari apa sih say? Kok kyk yg berambisi banget?”
Dia : “Aku ingin jd pemimpin divisi di O&G Company ini. Supaya bisa banyak berbagi dengan orang lain.”
Saya : “Hmm, iya, bukankah itu butuh proses?”
Dia : “Iya, semuanya bertahap, tapi inilah salah satu tahapannya. Aku pengen kayak Pak A, Pak D, dll yang sudah mencapai level management di umur yg relatif muda.”
Saya : “Ga capek? Ga stress kamu mikirin itu?”
Dia : “Justru itu, karena punya TUJUAN itu aku jd ga stress, ada yang dikejar. Kalo stagnant, ilmu dan pengalaman ga nambah ya malah stress.”
Masih sulit aku pahami (jika aku menjadi dia ya, bukan paham maknanya, doing-nya bukan meaning-nya), jd akupun bertanya kembali,
Saya : “Mungkin kalo aku sepintar kamu dan punya modal besar seperti kamu akupun begitu kali ya?” lagi-lagi pertanyaan bodoh yang semakin memancing semangatnya untuk bercerita. :p
Dia : “Ini bukan masalah pintar say, yang paling penting itu KEMAUAN. Asal ada KEMAUAN dan USAHA insya Allah ada jalan. Contoh ni ya, temenku dulu, ada yang pinter banget waktu SMA, selalu rangking 1, juara umum bahkan tapi ternyata kehidupan kerjanya ga secemerlang prestasinya itu.”
Saya : “Oiya I see, akupun punya pengalaman yang hampir serupa.”
Dia : “Nah. Ngerti kan? Tapi dengan catatan ya, semuanya sudah ada di dalam Qada dan Qadar-Nya, insya Allah semua bisa diraih.”
Saya : *angguk-angguk*

๐Ÿ™‚ Inilah KAMI
AKU, tipikal nyantai, lively, realistis, ‘go with the flow’ person, persentase pesimis dan optimis-nya 45% : 55%.
DIA, tipikal bersemangat, well planning, terstruktur, idealis, suka tantangan, persentase pesimis dan optimis-nya 5% : 95%.

What a good combination to get balance๐Ÿ˜€

Insya Allah. Amiin.

One thought on “Belajar optimis darinya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s