Life Lessons · Parenthood Story

10 Bulan Mimpi Indah

Setelah hampir 4 tahun lamanya, setelah 2 kali didiagnosa Blighted Ovum dan harus dikuretase akhirnya hari itu 26 November 2013 pukul 07.05 malam WITA aku mendengar tangisan kencangnya pertama kali. Mengalir deras air mata sembari bersyukur mengucap: “Alhamdulillah ya Rabbi, setidaknya sampai detik ini Engkau izinkan aku merasakan melahirkan seorang anak, merasakan menjadi seorang ibu. Ya, setidaknya sampai detik ini.”

Terlalu bahagia sehingga untuk membayangkan kebahagiaan itu bisa berlanjut hingga ke detik selanjutnya pun aku tak sanggup. Banyak hal yg berkecamuk, belum lagi karena DSOG masih asyik dengan peralatan jahit menjahitnya di perutku. Sungguh hati ini sangat berharap kebersamaan kami akan lama tapi mengingat perjalanan panjang yg kami lalui untuk mendapatkan buah hati memaksa untuk tidak berlebihan bergembira. Lalu aku berdoa semoga kebersamaan ini berlangsung lama, kebahagiaan ini dapat terus berlanjut.

Ya, dengan rentetan panjang perjuangan untuk bisa dipercaya Allah menerima titipan anak. Pengalaman masuk ICU pasca kuretase pertama. Ditambah drama selama masa kehamilan. Membuat operasi caesar yg dilakukan pada malam itu cukup menegangkan. Dokter anastesi sepanjang proses operasi berubah peran menjadi komentator mengomentari dan menjelaskan apa yg sedang dilakukan DSOG saat itu. Tujuannya hanya satu, menyemangati sambil menenangkan mental si ibu.

Setelah IMD walaupun hanya seadanya karena keadaan tak memungkinkan IMD 1 jam di meja operasi, lalu proses observasi pasca operasi akhirnya aku kembali ke kamar perawatan dan berjumpa dengan anak kami, Danish Ara Azami. Sepanjang malam kami berdua dalam 1 ranjang, sepanjang malam kami belajar proses menyusui tentunya dengan kondisi infus masih terpasang dan jahitan pasca operasi. Itu cita-cita kami bertiga sejak ia di dalam kandungan bahwa kami akan bekerjasama untuk bisa breast feeding. Malam pertama kehadiran Danish aku tidak tidur sama sekali, entah karena tak bisa, tak mau atau takut. Ternyata keesokan paginya baru kusadari mengapa aku tak bisa tidur semalaman. Tidak lain karena aku takut jika aku tidur lalu terbangun, Danish tak ada di sana. Aku takut kehadiran Danish di sampingku saat itu hanyalah mimpi indah semata.

Hingga 3 hari di RS dan sekembalinya kami ke rumah, masih tidak percaya rasanya bahwa kini hadir bayi kecil yg polos dan lucu di tengah-tengah kami. Seperti mimpi yg bersambung kataku pada sebuah status berisikan foto Danish yg ku-upload di Path. Sungguh itu bukan hanya bualan, itu benar-benar perasaan takjub yg luar biasa, perasaan bahagia yg paling mengharukan sepanjang hidupku.

Perjuangan memberi ASI pun tak mulus begitu saja, penuh dengan drama. Di hari ke-4 usianya, Danish menolak menyusu. Maklum kami sama-sama belajar, ASI yg Danish minum dengan yg aku produksi belum seimbang membuat PD membengkak dan mengeras sehingga Danish menolak karena tak suka. Sedih sekali melihat Danish menolak menyusu setelah 3 hari menikmati masa-masa romantis belajar menyusu. Akhirnya malam itu Danish benar-benar frustasi karena kelaparan, suami bergegas mencari breastpump karena breastpump yg kami beli masih di tangan mertua di Jakarta. Sambil menunggu breastpump akhirnya Danish aku relakan menyusu ke adik sepupu walau dengan rasa cemburu melihat ia lahap sekali.

Kami sekeluarga berjuang mengumpulkan ASI tetes demi tetes untuk diberikan ke Danish. Gagal di breastpump yg dibeli, suami bergegas mencari pinjaman breastpump ke temannya yg istrinya juga sedang menyusu. Alhamdulillah dapat meskipun hasilnya masih sangat sedikit tidak sebanding dengan isi dan kebutuhan Danish. Ya, bukan tidak ada tapi tidak mau keluar karena ketegangan suasana saat itu yg ngotot banget sampe lupa kalo si ibu ga boleh stress kalo mau ASI keluar lancar. Akhirnya, keesokkan paginya mertua subuh-subuh ke Bandara Soetta mengantarkan breastpump ke ayah saya yg pagi itu transit di Jakarta dalam perjalanannya dari Palembang ke Balikpapan. Syukur Alhamdulillah, setelah itu suami yg mengatur pumping kali ini harus dilakukan dengan relaks, dirancanglah olehnya suasana memompa seasyik dan serelaks mungkin. Jangan fokus di botol pompanya, begitu katanya saat itu. Jadi aku hanya diminta memompa dengan mata terpejam dan diiringi backsound yg menenangkan. Daaaan, berhasil. Sejak saat itu, ASI yg keluar semakin banyak.

Perjuangan berlanjut, setelah ASI berhasil tertampung sesuai dengan kebutuhan Danish dan Danish mau menyusu via botol. Kali ini drama lain berlanjut. Berusaha mengenalkan kembali ke Danish menyusu langsung dari emaknya. Aku sempat hampir baby blues karena habis ditolak Danish mentah-mentah langsung drop mentalnya. Takut ditolak lagi, takut sedih lagi. Tapi untungnya si ibu kekeuh bilang bahwa Danish harus dikenalkan menyusu langsung. Pasti ditolak ujarnya, tapi lama-lama dan secara naluri dia akan tau bahwa ini ibunya dan disinilah tempatnya menyusu. Masih terngiang ucapan ibu yg membuat mentalku bangun kembali: “Nak, ibu-ibu jaman dulu ga kenal breastpump, ga kenal susu formula tapi mereka semua pada akhirnya berhasil menyusui, bayi mereka pun akhirnya mau menyusu. Bayi itu pintar dan ini semua sudah dirancang sedemikian rupa oleh Allah jadi ga mungkin ga bisa.” Dan, meskipun berkali-kali Danish menolak dan menangis ketika disusui langsung, bersamaan dengan itu akupun berusaha positive thinking dan berbicara dengannya dari hati ke hati lama-kelamaan hati anak ini luluh. Aaah, sungguh bahagia luar biasa.

Waktu pun bergulir, kami masih sering merasa takjub melihat ada bayi kecil dan menggemaskan di rumah kami, berbaring bertiga di atas kasur sungguh belum pernah terbayang betapa bahagianya rasa itu. Maklum, hampir 4 tahun kami habiskan di rumah hanya berdua saja. Masih berasa mimpi indah rasanya.

Kemudian, 10 bulan kemudian di kamar ICU terbaring putri kecil kami yg sedang berjuang. Ya, putri kecil kami Danish Ara Azami koma pasca kejang dan pemasangan alat bantu pernafasan. Kejadiannya begitu cepat, belum 24 jam sejak dia masuk UGD karena demam tinggi dan muntah-muntah. Dan ini demam hari pertamanya. Pada saat jantungnya berhenti pertama kali kebetulan sekali pada saat itu kami orang tuanya dipanggil Dokter Anastesi yg memantaunya untuk dijelaskan kondisi Danish pada saat itu. Ya, tak berapa lama kami masuk ruang ICU, Danish pertama kali berhenti detak jantungnya. Lalu Dokter bergegas ke ranjangnya dan fokus untuk memompa jantungnya sembari disuntikkan adrenal. Sungguh, kami hanya bisa terbujur kaku melihatnya sambil berdoa tanpa henti berharap Allah menyembuhkan anak kami. Dokter pun menyuruh kami duduk di sisi Danish sambil memberinya semangat. Teriakkan semangat dan doa kami berikan untuknya. Ya, semangat untuk Danish terus hidup bersama kami, melanjutkan perjuangan bersama kami di dunia ini, berbagi bahagia, merajut asa. Sampai pada akhirnya akupun tertidur sekejap di sisi ranjangnya. Kemudian aku terbangun, teramat sangat berharap kejadian ini hanyalah mimpi buruk. Aku hanya bisa menghela nafas hingga membuat kakak sepupu yg menemani kami (ke-4 ortu kami dan keluarga kami lainnya semua berada di luar kota) bertanya: “Ada apa, Vi?” Dengan lemasnya aku menjawab: “Nggak, Kak. Kirain ini cuma mimpi. Ternyata ini nyata ya, Kak?”.

Kami sama sekali tak menyangka pada akhirnya putri kecil kami yg sangat kami sayangi itu akhirnya pergi. Ya, setelah perjuangannya sejak berhenti detak jantung pertama kali dengan pergolakkan batin kami orang tuanya yg ingin terus berjuang agar Danish tetap hidup pada mulanya, perlahan kami mulai pasrah melepasnya, menyerahkan mana yg terbaik menurut Allah. Orang tua mana yg tega melihat anaknya terus menerus dipacu jantungnya, disuntikkan adrenal dengan dosis yg kian bertambah, bernafas 100% hanya dengan alat bantu. Sungguh hancur hati ini. Anak yg selama ini penuh kehangatan, ceria, sehat, sekejap mata berubah kian lama kian terbujur kaku, dingin membeku. Pada akhirnya, rasa sayang kami padanya dan rasa percaya kami bahwa di sisi Allah-lah tempat paling nyaman untuknya membuat kami ikhlas melepasnya. Sungguh, keikhlasan melepasnya merupakan ungkapan rasa sayang terakhir kami yg bisa kami berikan padanya. Tepat pukul 06.50 WITA tanggal 02 Oktober 2014 yg lalu, Danish Ara pergi ke rahamatullah. Innalillahi wa innailaihirojiuun.

Kami tak tahu bagian mana dari hidup kami yg nyata dan bagian mana yg mimpi. Pada saat Danish Ara lahir ke dunia aku teramat sangat takut jikalau ternyata Danish Ara hanyalah bagian dari mimpi indah, sehingga tak ingin tidur sama sekali. 10 bulan kemudian, aku teramat sangat berharap kejadian di ICU hanyalah mimpi belaka, aku hanya tertidur dan ini hanya bagian dari mimpi buruk. Namun yg terjadi sama sekali bukan mimpi. Danish Ara memang sudah pergi.

Kembali ke rumah, setelah pemakaman dan 3 hari meninggalnya Danish, di rumah hanya tertinggal keluarga inti. Rumah diubah layoutnya oleh kami, ortu kami, adik saya dan pengasuh Danish. Semua peralatan, pakaian dan mainan Danish Ara kami simpan rapih di gudang. Kondisi ini mengingatkan kami pada saat kami hanya berdua saja di rumah ini. Dulu, sejak Danish Ara Azami, anak yg sangat kami sayangi belum mengisi hari-hari bersama kami di rumah ini. Iya, kami merasa seakan-akan kehadiran Danish bersama kami 10 bulan adalah mimpi indah yg Allah hadirkan untuk kami. Mimpi indah, mimpi yg teramat sangat indah selama 10 bulan. Dan saat ini kami terbangun, kami kembali berdua lagi seperti dulu.

Danish Ara Azami, terima kasih sudah hadir di kehidupan mami papi meskipun hanya 10 bulan. Sungguh membahagiakan. Danish Ara harus ingat ya, mami dan papi sayang Danish Ara selamanya! Selamanya!

Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim. Terima kasih atas hadiah terindah dari-Mu untuk kami. Terima kasih atas semuanya. Allah kami yg Maha Baik, Engkau menguji kami tapi Engkau tak pernah alfa membantu kami melewati masa-masa sulit ini. Semoga ujian ini semakin membuat kami dekat dengan-Mu.

Ya Allah yg maha pengampun. Ampunilah dosa-dosa kami. Semoga kelak, Engkau berkenan mengumpulkan kami kembali bersama anak-anak kami dan keluarga yg kami kasihi di surga-Mu. Aamiin. Allohumma Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s