Life Lessons · Parenthood Story

Tentang Mimpi #2

Hidup di dunia ini, sering membuat kita bertanya-tanya atas setiap kejadian yg kita alami. Mimpikah? Nyatakah? Dan saat itu pula mimpi seakan terdefinisi menjadi hal yg abstrak, hal yg mengawang-awang. Kita berusaha keras menyadarkan diri bahwa apa yg kita alami adalah nyata, inilah kenyataannya. Baik atau buruk, pahit atau manis inilah kenyataan hidup.

Tapi ketika mencoba naik lebih tinggi, melihat dari sudut pandang yg lebih luas. Semakin tersadar bahwa hidup di dunia ini tak ubahnya mimpi. Kita tidak bisa mengatur mimpi kita sesuai maunya kita. Tentang apa, dengan siapa, berapa lama, endingnya seperti apa? Kita tak punya kuasa. Kita hanya tau kita persiapkan segala sesuatunya sebelum akhirnya kita terlelap dan dengan sendirinya mimpi itu hadir. Bisa hadir, bisa pula tidak. Bisa mimpi yg indah bisa juga buruk. See? Itupun yg kita alami di sepanjang perjalanan hidup kita di dunia ini. Kita tak punya kuasa. Atas apapun yg akan terjadi di hidup kita, kita tak punya kuasa. Tugas kita hanyalah mempersiapkan dan menjalankan segala sesuatunya semampu kita. Hanya sampai di sana. Seperti apa perjalanan hidup kita setelah itu, kita tak punya kuasa. Tak punya kendali.

Jadi, bisakah kita menenangkan diri kita ketika kita terbangun dari mimpi buruk kita dengan berkata: “Ah syukurlah itu cuma mimpi!”, ketika hidup dan kehidupan kita yg kita jalani pun tak ubahnya sebuah mimpi?

Ya, kita patut bersyukur saat itu karena kita baru saja melewati fase pertama dengan selamat karena itu hanya mimpi buruk belaka. Ada yg bisa menjamin kita akan melewati fase kedua dengan perasaan yg sama? Fase kedua pada saat hal yg kita anggap mimpi buruk akhirnya menjadi nyata. Jawabannya sudah pasti tidak.

Masih bisakah kita menghakimi bahwa mimpi kita semu padahal hidup kita sendiripun semu? Ah, dari sini saja kita harusnya sudah harus berlutut kepada yg Maha Kuasa. Kita sering lupa, dunia kita bagaikan dunia mimpi kita yg bisa lenyap tanpa sebab, yg mendadak suram tanpa sebab, yg bisa tiba-tiba suram lalu tiba-tiba bahagia. Tak bisa dikendalikan hanya dengan tangan kita sendiri.

Renungan untuk diri sendiri, ketika hidup kita hanyalah semu belaka sesemu mimpi kita, maka apa yg kita cari di sini? Sebesar apapun yg kita cari, setinggi apapun kita bermimpi untuk dunia ini, semua bisa lenyap hanya dengan 1 kedipan mata. Jika hanya bersandar pada dunia ini beserta isinya, kemudian semuanya lenyap sekejap mata, yakinlah tubuh kita pada akhirnya hanya berupa gumpalan daging yg tak berguna. Apalah manusia jika tanpa tujuan dan sandaran hidup. Dari sini, Allah memberi pelajaran berarti. Bersandarlah pada-Nya, ubahlah tujuan hidup kita hanya untuk-Nya, menggapai ridha-Nya. Dengan itu, insya Allah hati akan tenang walaupun hidup sedang tak bersahabat, setenang kita terbangun dari mimpi buruk sembari berucap: “Tenang ini segera berlalu, berganti mimpi yg lainnya”. Atau ketika hidup sedang bermurah hati seperti kita mimpi indah lalu terbangun sembari berucap: “Nikmatilah bahagia ini dan bersiaplah menyongsong musim yg akan berganti”. Begitu seterusnya.

Wallahualam bishowab.

Balikpapan, 28 Oktober 2014

Hari ke-26 sejak kepergian anak kami tersayang, Danish Ara Azami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s