Life Lessons · Parenthood Story

Belajar Bijak dari Danish Si Anak Bijaksana

Danish Ara Azami. Nama itu kami berikan ke anak pertama kami. Diberkahi dengan kebijaksanaan (pembelajaran) itu makna yg ada dibalik namanya. Besar harapan kami, ia tumbuh menjadi manusia bijak yg juga membuat orang tuanya belajar menjadi bijak dengan kehadirannya.

Sejak kehadirannya, kami temukan sosok anak yg sungguh baik di dalam dirinya. Terkadang aku sebagai ibunya pun tak menyangka bisa dianugerahi anak yg sebaik dia. Siapalah kami ini, hanya 2 manusia biasa yg masih banyak khilaf dan salah yg melekat di diri. Sebagai sesama anak pertama dengan background keturunan sumatera tulen tentunya kami berdua tipikal yg cukup vokal. Danish Ara, tak hanya membuat kami orang tuanya ini terkagum-kagum, nenek dan uminya pun cukup salut dengan sikap Danish Ara yg sangat pengertian meskipun di usianya yg masih bayi. Ya, nenek dan uminya sadar betul bahwa orang tua Danish Ara yg merupakan anak mereka sungguh termasuk orang yg kreatif sejak kecil,Β  ‘banyak ulah’ atau ‘berulah’ alias banyak merepotkan para orang tuanya waktu kecil. Saat itu, kami pun berpikir mungkin Danish Ara penyeimbang sifat kedua ortunya.

Mulai dari tidurnya yg tak pernah merepotkan, Danish cuma butuh minum ASI, baik itu via botol dot ketika aku masih kerja dulu maupun langsung. Setelah selesai menyusu, dia lepaskan dan langsung lelap atau putar balik telungkup atau pegang guling/bantalnya tak sampai 5 menit dia terlelap sendiri. Begitupun jika dia sudah mengantuk dan pengen tidur tanpa menyusu.

Ketika aku masih aktif bekerja kantoran, tak pernah Danish bangun tengah malam, dia menyusu pukul 9 malam, lalu sebelum tidur pukul 11.30 malam aku susui dia dan pukul 4.30 fajar dia baru bangun untuk menyusu kembali. Herannya, setelah aku tidak bekerja kantoran lagi, Danish langsung sering bangun malam minta menyusu.

Sungguh terharu dan takjub sekali punya anak seperti ini, padahal ibunya ini terkenal merepotkan sekali ketika bayi dulu. Danish tak pernah rewel dalam keadaan apapun kecuali pada saat pengen banget menyusu. Ditinggal kedua orang tuanya kerja Danish anteng aja, pada saat badannya ga enak pun kami tak tahu karena Danish tak pernah sedikitpun rewel, di pesawat, dalam perjalanan seharian di mobil menembus macetnya Jakarta Danish pun tak pernah rewel bahkan ketika pantatnya lecet karena diaper rash-pun Danish tak sedikitpun menangis.

Begitupun tentang memberi makan Danish, sejak usia 6 bulan ia mulai MPASI hingga sebelum dia meninggal Danish tak pernah sulit disuapi makan. Banyak orang terpana melihat kemauan makannya yg sangat baik. Apapun makanan yg aku siapkan Danish suka, sempat aku lontarkan pertanyaan sembari bercanda: “Danish, apa ya makanan yg Danish ga suka? Semuanya suka, wah senangnya mami, Danish penyuka segala!”. Selain itu, Danish hanya perlu duduk di high-chair atau di car seat, Danish tak terbiasa makan sambil digendong dan diajak jalan-jalan. Seingatku hanya 2 kali Danish susah makan yaitu pada saat sebelum dan sepanjang Danish sakit di Paris dan hari pertama ia demam sebelum akhirnya ia meninggal.

Selama 10 bulan hidup, Danish hanya demam 2 kali yg pertama pada saat dia dirawat di RS di Paris dan yg kedua adalah demam yg akhirnya merenggut nyawanya.

Masya Allah, Alhamdulillah, aku dan suami pun bersyukur sekali dan sering menjulukinya ‘Danish si Anak Bijaksana’. Sampai akhirnya Danish pergi meninggalkan kami, Danish selalu jadi anak baik dan kami banyak belajar darinya bahkan hingga detik ini.

Pada mulanya kami bertanya-tanya mengapa Allah memberi kami ujian seberat ini? Mengapa anak yg sungguh baik itu akhirnya pergi meninggalkan kami? Mengapa anak yg telah lama kami nantikan dan penuh perjuangan kami dapatkan akhirnya diambil kembali? Lambat laun kami belajar dan Allah mengirimkan jawaban secara perlahan.

Semakin kami mencari, semakin kami menyadari bahwa Allah teramat sangat baik. Allah Maha Baik. Tidak ada alasan bagi kami untuk tidak bersyukur kepada-Nya meski dihadapkan dengan ujian seberat ini. Sejak dulu kami merindukan hadirnya seorang anak di tengah-tengah kami dan akhirnya Allah beri. Meskipun hanya 10 bulan tapi apa iya lantas itu tak membuat kami mensyukurinya? Ketika dalam keadaan sadar pun kami ditanya maukah dititipkan seorang anak selama 9 bulan di kandungan dan 10 bulan mengurusnya, tanpa keraguan kami akan menjawabnya: “Mau!”.

Melalui Danish kami sangat bersyukur sekali bisa merasakan nikmatnya dan bahagianya menjadi orang tua meskipun hanya 10 bulan. Apa yg Allah beri dengan apa yg Allah ambil masih sangat sangat tidak sebanding. Nikmat yg Allah beri selama ini masih jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan nikmat yg Allah ambil. Selain itu, meskipun Allah akhirnya mengambil anak kami, Allah skenariokan cara-Nya dengan sangat baik. Sebulan sebelum kepergiannya, aku dan suami sepakat untuk akhirnya mengurus surat resign-ku yg selama ini selalu penuh keraguan. Jalannya pun dipermudah. Selama sebulan penuh lamanya kami bermain dengan Danish dan rasanya tak mau sedikit pun kehilangan moment bersamanya. Sebulan sebelum kepergiannya, nenek, umi dan buyanya sempat berjumpa dan bermain dengannya. Allah tak berlama-lama membiarkan Danish menahan rasa sakitnya, kurang dari 30 jam sejak Danish dirawat di RS, Danish diambil dan dibawa Allah ke tempat yg paling nyaman. Meskipun menyedihkan dan memilukan melihatnya terbaring di ICU, dari sana Allah perlihatkan gambaran anak kami yg akhirnya membuat kami lebih merelakan ia pergi dan terbebas dari segala macam penyakit yg ada di dunia.

Lewat kepergian Danish kami semakin menyadari akan kuasa dari yg Maha Kuasa. Tak ada daya upaya kami sebagai manusia yg sanggup mengubah kehendak-Nya. Sebesar apapun kami mengusahakannya, sehebat apapun kami memilih cara untuk menyembuhkannya jika Allah berkehendak memanggil anak kami, maka Allah ambilah kepunyaan-Nya. Sesayang-sayangnya kami dengan Danish anak kami, Allah berkali-kali lipat lebih menyayanginya. Sebahagia-bahagianya Danish bersama kami, tentu jauh lebih bahagia lagi Danish bersama Allah. Teringatkan kalimat suamiku yg coba menyemangatiku: “Danish itu seumpama kita menitipkan anak kita ke orang lain selain ortunya, sebesar apapun sayangnya ia ke Danish, pasti kita jauh lebih menyayangi Danish. Sebahagia apapun Danish ketika bersama orang tsb, pasti ketika Danish bersama kita Danish jauh lebih bahagia lagi. Begitupun Allah, kita ortunya hanya dititipkan sementara sedangkan Danish adalah milik Allah jadi posisi kita saat ini adalah posisi orang yg kita titipkan Danish tadi. Danish udah pasti lebih bahagia di sana.”

Kepergian Danish mengingatkan kami bahwa semua yg kami punya di dunia hanyalah titipan, termasuk tubuh ini. Kepergian Danish mengingatkan kami bahwa kami pun harus bersiap diri mempersiapkan akhirat yg akan kami tuju nanti. Dengan keterbatasan kami sebagai manusia, selama ini kehidupan akhirat jauh dari bayangan kami, terlalu abstrak. Membayangkannya saja kami selalu menghindar entah karena terlalu terlena dengan kehidupan dunia atau karena kami terlalu takut dengan masih banyaknya dosa. Ibadah kami lakukan hanya semata karena kewajiban. Kepergian Danish menyadarkan kami bahwa pada akhirnya akhiratlah yg akan manusia tuju. Alhamdulillah, Danish menjadi penyemangat kami. Allah sungguh Maha Baik, Allah jadikan Danish penyemangat kami untuk semakin dekat pada-Nya. Allah hadirkan anak surga untuk kami agar kami menyadari tujuan hidup kami bukan di sini, dunia ini hanya sarana untuk kami mengumpulkan tabungan yg akan kami bawa kelak di akhirat. Dunia ini kami gapai hanya untuk meraih ridha-Nya. Semakin kami sadari ini, semakin meneteslah air mata ini. Betapa Allah sangat menyayangi kami meskipun kami sudah terlalu lama lalai.

Ah Danish sayang, di usiamu yg hanya 10 bulan engkau banyak memberikan pelajaran bagi ortumu hingga detik ini, Nak. Sungguh bahagia dan bangganya kami melebihi kebanggaan kami jika engkau meraih prestasi paling tinggi di dunia. Nikmat Allah mana lagi yg sanggup kami dustakan manakala mami telah diberi kesempatan yg teramat sangat berharga mengandungmu di rahim mami, melahirkan dan berdua dengan papi mengurusmu duhai sang anak surga.

Terima kasih anakku sayang. Sampai berjumpa kelak di surga Allah. Semoga mami dan papi bisa terus istiqomah menggapai ridha Allah. Semoga Allah mempertemukan dan mengumpulkan kita kembali di surga-Nya. Aamiin. Allohumma aamiin.

3 thoughts on “Belajar Bijak dari Danish Si Anak Bijaksana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s