Parenthood Story

Nadra Annaima

Alhamdulillah. Akhir-akhir ini udah lumayan banyak me-time, si anak bayik udah makin pinter jadilah Ibu curhat-curhat geje aja ah di blog ini.

Mau cerita tentang Nadra, anak kedua kami. Alhamdulillah. Akhirnya rumah ini bising-bising menyenangkan lagi dengan adanya tangis bayi yang dulu sempat hilang. Akhirnya ada lagi yg posesif ke diriku (selaen Pak Suami 😜). Akhirnya bisa romantis-romantisan lagi tatap-tatapan mata sambil menyusui. Dan another akhirnya-akhirnya lainnya.

Nadra, lahir 20 Agustus 2015 di RS Pertamina Balikpapan dengan sekelumit permasalahan di hari-hari menjelang kelahirannya. Alhamdulillah, anak kami lahir dengan selamat dan sehat.

Nadra Annaima

Nadra, lahir dengan bayang-bayang mendiang sang Kakak Danish Ara di pikiranku. Jarak kehamilan Nadra yg hanya 2 bulan setelah kehilangan Danish Ara sempat membuatku berpikiran bahwa Nadra adalah Danish Ara yg dimasukkan lg ke rahimku (Huhu maafkan Ibu, Nadra). Sempat cerita hal ini ke Adek dijawab super bijak: “Yuk, yg lahir dr perut Ayuk itu adalah anak Ayuk, darah daging Ayuk. Ayuk pasti sayang sama dia.” Dan tetep ga bisa menghilangkan bayang-bayang Danish.

Sepanjang kehamilan, jika membayangkan mukanya kelak seperti apa, muka Danish-lah yg wara-wiri. Lunglai jadinya. Karena hal tsb ditambah menghadapi morning sickness yg juga maha hebat, semangat akan punya baby baru agak meluntur. Sempat khawatir akan dilanda baby blues pasca lahiran. Huhu.

Alhamdulillah sampai akhirnya Allah memberi cara bagaimana bisa membangkitkan semangat baru, bukan semangat karena terbayang-bayangi oleh Danish Ara. Setelah tahu perkiraan jenis kelamin si anak, kami akhirnya mencari nama yg akan diberikan ke anak kedua kami. Nadra Annaima. Ayahnya hanya request pengen punya anak yg arti namanya tentang kebahagiaan, semacam pembawa kebahagiaan. Setelah mencari dan mencari akhirnya ketemu di Al Quran, Surat Al Mutaffifin ayat 24: Nadhratannaiim. Kesenangan yg penuh kenikmatan, the radiance of bliss. Sejak itulah, kami sepakat memanggil dan menceritakan tentang bayi yg sedang dikandung ini dengan sebutan Nadra. Alhamdulillah, cara ini sangat sangat membantu sekali. Dengan cara ini seakan-akan menyadarkan kami bahwa anak yg dikandung ini adalah anak baru lagi, anak lainnya, bukan anak kami Danish Ara. 😒

Di meja operasi, saat suster menginfokan bahwa si baby akan segera lahir saat itu pula air mataku meleleh. Tumpah ruah. Bukan, bukan tangisan haru seperti pada saat melahirkan Danish dulu. 😒 Tangisan ini tangisan luka, luka karena mengingatkan dengan jelas saat melahirkan Danish Ara 2 tahun yg lalu, dan ternyata anak itu sudah pergi. 😒 Sempat kupeluk sesaat anakku yg baru lahir itu sampai akhirnya ia diambil lg untuk dibersihkan. Keluar dari ruang operasi, tangis yg sempat mereda tak sanggup lg kubendung. Saat itu pula aku meminta suster untuk memanggil suami dan ibuku. Ibuku masuk, dan langsung dibanjiri tangisanku. Ibuku sempat bingung ada apa denganku? Akhirnya aku ceritakan betapa pedihnya perasaanku saat operasi karena teringatkan saat melahirkan Danish dulu. 😒

Allah knows best. Mungkin Allah menginginkan kami membuka lembaran-lembaran kehidupan yg baru, mengisi lembar-lembar di buku kehidupan kami dengan tinta yg baru sehingga Allah berikan Nadra Annaima yg sangat berbeda dengan sang Kakak. Walaupun sama-sama perempuan, namun dari tampilan fisik, hingga perilaku, keduanya sungguh berbeda. 😊

Di awal kehadirannya, kami masih sering salah sebut namanya, lagi-lagi nama Danish-lah yg terucap setiap kali kami memanggil atau menyebut namanya. Huhu.

Alhamdulillah, seiring berjalannya waktu, bayang-bayang itu kian hilang. Kami sadar bahwa Nadra dan Danish adalah pribadi yg berbeda. Keduanya anak kami yg kami sangat kasihi. Pelan tapi pasti, akhirnya aku mencintai Nadra sebagai Nadra, bukan sebagai pengganti Danish. Dan, entah mengapa sepertinya Nadra sendiri juga berusaha untuk mengambil hati kami. Sungguh menakjubkan kuasa Allah, Nadra anak yg sungguh ekspresif, responsif dan komunikatif, terlihat sekali sejak lahir dia berusaha untuk menunjukkan keberadaan dirinya. Dia yg berusaha mendekatkan dirinya, berusaha menunjukkan ke kami bahwa dia membutuhkan kasih sayang kami, hal yg tak kami temui pada pribadi Danish dulu. Masya Allah. Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban. 😊

Dan.. akupun takluk dengan bujuk rayuan mautnya. ❀

Nadra Annaima-nya Ayah dan Ibu, kami menyayangimu, Nak. Semoga Allah selalu meridhai keluarga kita. Meridhai setiap perjuangan kita di kehidupan ini. Kami mencintaimu, karena Allah. 😘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s