Life Lessons · Quran & Sunnah

Ujian Allah Sesuai Kesanggupan Hamba-Nya

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Al Baqarah : 286)

Al Baqarah:286

Tergerak untuk mengeluarkan isi pikiran selama ini tentang ujian. Ketika diuji sering terlintas ayat di atas dalam pikiran, terlebih ketika nyaris di ambang batas kekuatan diri.

Iya, dalam 4 tahun berturut-turut ujian yang menimpa diri ini tergolong luar biasa. Secara manusiawi sempat terlintas pertanyaan di diri ini, mengapa ujian seberat ini menimpaku?

Ya, terlepas dari apa makna dari ujian yg diberikan Allah ini, setelah berhasil melewatinya (tentunya dengan pertolongan Allah yang Mahapengasih) saya tersadarkan bahwa ujian itu sesuai kekuatan masing-masing hamba-Nya. Berat atau ringannya ujian itu relatif pada masing-masing orang. Ketika ditimpa suatu ujian, berat yang saya rasa akan ujian tersebut belum tentu bagi orang lain berat, begitupun sebaliknya.

Saat diri ini sedih luar biasa ditinggal pergi anak tersayang di usianya ke 10 bulan -anak yg dinanti-nanti hampir 4 tahun lamanya, anak yg didapat setelah melewati keguguran 2 kali- terlintaslah bayangan seorang ibu yang harus mengurus anaknya yg sakit-sakitan terus menerus dalam jangka waktu yang lama, ibu yang mempunyai anak yang berkebutuhan khusus dll. Saat terlintas, saat itu pula hati ini tersentak. Ternyata, jika aku di posisi mereka, belum tentu aku sanggup. Pernah menunggui anak yg dirawat selama 1,5 bulan di Rumah Sakit dan terasa sekali pilunya hati, tak terbayangkan jika hal itu harus bolak-balik terjadi.

Hal ini bukan berarti saya beranggapan bahwa ditinggal meninggal anak itu lebih baik daripada bolak-balik merawat anak yg sakit. Kembali lagi ke berat atau ringannya ujian itu relatif pada masing-masing orang. Dari kacamata saya, melihat anak bolak-balik terbaring di Rumah Sakit, dengan kesakitannya, dengan segala treatment yg mendera tubuh mungilnya, dengan menahan perih ingin anak segera sehat tapi kita tak mampu berbuat, hal ini sungguh berat. Iya, kehilangan anak tersayang secara mendadak sungguh teramat berat, tapi kita tahu kepergian itu juga menghilangkan semua rasa sakit yang mendera tubuhnya, kita tahu dia di tempat yang nyaman tanpa kesakitan yg akan menderanya. Meski hati ini sedih dan hancur kehilangan raganya, tak mengapa jika itu bisa menghentikan penderitaannya. Hati ibu mana yg tak hancur melihat anaknya bertahan dengan kesakitannya dan bagi saya mereka yg diberi ujian ini pun manusia yg luar biasa kuat, belum tentu diri ini sanggup menerima ujian tsb. Allahualam.

Tak jauh di sekitar saya, bahkan di lingkaran terdekat sendiri pun tak lepas jadi bahan perenungan. Ada yg belum diberi kesempatan mempunyai keturunan setelah belasan tahun menikah, ada yg harus bercerai dari suami, ada yg ditinggal meninggal oleh suami/istri, ditinggal meninggal ibu/ayah, berkonflik tak berkesudahan dengan masa lalu dan masih banyak lagi. Mengamati mereka dengan ujiannya masing-masing membuat berkaca diri, dan lagi-lagi belum tentu diri ini sanggup jika di posisi mereka. Allahualam.

Dan seperti halnya rezeki, ujian pun ga akan tertukar dan salah alamat. Allahualam.

Berat dan ringannya ujian itu relatif. Tugasku hanyalah yakin akan janji-Nya bahwa ujian yg menimpaku tidak akan melebihi batas kesanggupanku. Allahualam bishowab.

2 thoughts on “Ujian Allah Sesuai Kesanggupan Hamba-Nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s