Life Lessons · Work Life

Relationship Officer Part 3

Wah, kenapa tiba-tiba bahas ini lagi ya? Jadi gini, topik ini saya bahas lagi di sini karena merasa punya hutang cerita. Iya, tak terasa waktu berjalan, musim berganti, cerita saya tentang lika-liku perjalanan saat menjadi Job Seeker dan akhirnya menjadi Relationship Officer tak pernah tuntas untuk dibahas. Sampai hari ini, berdasarkan statistik blog baik viewers maupun visitors topik Relationship Officer paling diminati di blog ini. Karena itulah, saya merasa punya hutang untuk melanjutkan kisah ini dan pesan moral yang perlu diungkap. Mau tau lanjutannya?

Baiklah, setelah pendidikan selama 12 bulan akhirnya saya mendapatkan pengumuman penempatan definitif saya. Saya di tempatkan di Kantor Wilayah II Padang, Sumatera Barat untuk kemudian ‘dilempar’ lagi ke Cabang Stand Alone di area Wilayah tsb. Setelah menunggu dengan perasaan berdebar-debar akhirnya diumumkanlah bahwa saya akan ditempatkan di Kota Dumai. Perjalanan darat dari Padang ke Dumai dengan mobil travel yang akhirnya mengantarkanku menginjak tanah Dumai. Siap gak siap, suka gak suka kami memang harus siap menerima di mana pun kami ‘dibuang’ untuk mengabdi karena kalaupun tak sudi, bersiaplah melunasi penalty fee.😦

Setelah 12 bulan lamanya saya bertahan di sana (sebenernya ini termasuk sebentar banget, biasanya RO yang terjebak di STA itu bisa bertahun-tahun lamanya bahkan sudah beranak pinak di sana masih ga balik-balik juga hihi), akhirnya saya pindah ke Balikpapan karena mengikuti suami. Mustahil rumah tangga dijalankan dengan istri di ujung Sumatera dan suami di ujung Kalimantan jadilah saya nekat mengusulkan permintaan pindah. Namun, karena quota untuk posisi RO di Balikpapan udah full akhirnya saya pindah Divisi lain yg kebetulan membutuhkan posisi RO di Balikpapan. Ya, saya pindah ke Divisi Syariah dan ditempatkan di KC Syariah Balikpapan. Tak berapa lama setelah saya pindah, Divisi tersebut juga berubah status menjadi perusahaan sendiri yang menginduk ke Bank Konvensional.

OK, sampai di sini clear, saya bukan lagi sebagai pegawai di Bank Konvensional tsb melainkan sudah pegawai Bank Syariah. Alhamdulillah, dalam islam ini namanya hijrah. Tujuan awal untuk mendekat ke suami, berumahtangga selayaknya rumah tangga yg tinggal bersama eh malah dapet bonus bisa hijrah ke Bank Syariah. OK, saya ga berlama-lama membahas tentang hijrah. Saya rasa satu kata itu sudah menggambarkan semuanya dan ini saya gunakan untuk menggambarkan perjalanan hidup saya pribadi.

Sejak saat itu saya tetap sebagai RO namun dengan sistem perbankan syariah. Hingga akhirnya pada tahun 2014 tepatnya akhir Agustus 2014 saya mengundurkan diri dari pekerjaan saya tsb setelah sempat berbagai posisi lain selain RO, Head of RO, Head of Processing, dan terakhir Sub Branch Manager. Mengapa pada akhirnya saya resigned? Pada saat itu saya memutuskan undur diri dari working mom karena ingin mengasuh Alm. Anak Pertama yang sebelumnya sempat sakit. Walaupun sempat 1,5 bulan saya temani dia di rumah, pada akhirnya Allah mengambilnya kembali. :’)

Jadi, perjalanan saya sebagai RO di Bank Konvensional terhenti ketika saya memutuskan untuk ikut suami dan pindah ke Bank Syariah. Sedih? Pada mulanya begitu, karena yang mendidik saya adalah Bank Konvensional sehingga pertemanan saya banyak di sana, sempat sedih karena peluang untuk berjumpa di pelatihan dengan rekan-rekan di Bank Konvensional dulu nyaris tak ada. Tapi yang paling tau yang terbaik buat diri ini hanyalah Allah semata. Pada akhirnya saya bersyukur saya bisa hijrah ke Bank syariah.

Hal tsb terjadi pula saat ini, meskipun sepertinya berat harus meninggalkan dunia kantoran yang telah saya jalani selama 6 tahun dengan karir yang lagi oke okenya tapi lagi-lagi Allah knows best. Bagi saya, perubahan kali ini pun hijrah. Saya tak berkutat lagi dengan dunia perbankan, perbankan syariah sekalipun dan tidak perlu saya jelaskan mengapa hal ini saya syukuri ya. Terlalu rumit untuk dijelaskan, masuk area perdebatan yang harus saya hindari karena ilmu yang masih sedikit. Hanya saja saya merasa punya beban moral karena tulisan saya tentang RO yang secara tersirat mengajak pembaca untuk tertarik dengan posisi itu. Namun, in the end of my RO story, sebagai istri sekaligus ibu yang juga muslim, pilihan yang sekarang saya jalani adalah yang terbaik dan tak menimbulkan pertentangan di hati dalam menjalaninya. Tidak perlu saya jelaskan lebih dalam, pembaca blog saya yang cerdas-cerdas ini pasti tau apa yang saya maksud.πŸ™‚

So, jika anda muslimah, ibu dan istri seperti saya, saya sarankan untuk think twice jika mendapatkan peluang tsb.πŸ˜‰

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s