Life Lessons · Parenthood Story

Ibu (Ga Boleh) Sakit

Astaghfirullah..
Astaghfirullah..

Siapa yang kemarin katanya pengen langsingin perut?

Oh Tuhan. Sepertinya si perut langsung protes,  langsung marah tingkat dewa ketika tau dirinya tak diterima apa adanya.

Malam ini, terhitung sudah 5 kali bolak-balik toilet. Bolak-baliknya sih gak masalah ya, baru-baru ini juga pernah begini. Kali ini sensasinya benar-benar beda, seingatku terakhir kali ngerasain perut kayak jadi mesin penggilingan yang lagi melumat organ-organ di dalamnya itu tahun 2008 silam. Kala itu aku masih gadis muda belia yang sedang mengenyam pendidikan pra bekerja di salah satu pusat pelatihan milik Bank yang slogannya ‘Pelayan Negeri’ (asyek!). Sensasinya sungguh mirip!

Ah, malam ini berharap dan berdoa Allah mengampuni dosa-dosa hambanya ini melalui penyakit ini. Sensasinya boleh saja sama dengan 7 tahun silam tapi kali ini berdoa semoga tingkat keparahannya ga sampe level harus dirawat inap di Rumah Sakit segala. Iya, 7 tahun yang lalu aku tepar karena lemas yang teramat sangat menahan sakit luar biasa ditambah dehidrasi yang akhirnya memaksa tubuhku berbaring tak berdaya di ranjang ruang perawatan Rumah Sakit.

Aku, termasuk tipe yang tak suka drama kalo lagi sakit, gak denial, sakit ya sakit diterima rasa sakitnya, dinikmati sensasinya dan diikhtiarkan penyembuhannya, kalo udah gak tertahan paling parah ya merintih halus. Tapi kali ini rasanya berbeda, tak bisa semudah itu menikmatinya ada hal lain yang sangat dikhawatirkan, lebih-lebih diri sendiri. Kali ini, aku bukanlah wanita muda penuh canda tawa yang bisa melenggang bebas di berbagai situasi dan suasana. Bukan. Kali ini, aku tetap wanita muda penuh canda tawa tapi 1 paket dengan makhluk kecil imut yang nemplok kemana-mana selalu berdua.

Ah, begini rasanya jadi Ibu, bahkan ketika ia sakit pun bukan keadaan dirinya yang ia pikirkan. “Ibu ga apa-apa, Yah. Ibu cuma khawatir kalo Nadra ikutan sakit. Kalo Ibu doang atau misalkan Ayah yang sakit (sakit yang ecek-ecek, ya) masih bisa Ibu tangani, tapi kalo udah Nadra yang sakit entahlah kayak apa.” Itu kalimat yang meluncur dari mulutku ketika suami menanyakan keadaanku. Ah, sakit ini mah masih bisa ditanggung diri ini meskipun harus berjuang sekuat tenaga nungging sana-sini ketika lagi waktunya melilit-lilit. Tapi kalo udah anak yang ikutan pula sakit, membayangkan keadaannya pun sungguh sulit. Jadi yang bikin sedih bukan menahan rasa sakit ini, sedih karena dengan sakit begini tubuh ini jadi lemah dan khawatir tidak bisa maksimal mengurus si anak bayi. Jadi Ibu harus super duper kuat. Kudu harus wajib. Bukan apa, karena ada makhluk kecil imut yang masih sangat bergantung padanya.

Ikhtiar penyembuhan sudah dilakukan, masih taraf home remedies. Ah, sekuat-kuatnya seorang Ibu, di mata Sang Empunya, dia juga hanyalah makhluk kecil tapi ga imut dan lemah. Ia juga butuh sandaran. Sandaran yang Mahakuat, Mahakuasa yang telah menyiapkan penyembuh dari setiap kesakitan.

Allah aku pada-Mu. Ampunilah dosaku. Sembuhkanlah aku. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s