Life Lessons

Aku Mencintaimu Karena Allah

Aku mencintaimu karena Allah.

Dulu, setiap membaca kalimat ini hati ini cenderung mempertanyakan alih-alih meyakini. Rasanya kalimat ini terdengar klise dan naif sekali. Seperti cerita Oki dan Nirmala yang hidup di negeri dongengnya.

Dulu, mikirnya sederhana banget, kalo aku suka atau sayang ya karena aku suka aja, sayang aja, karena itu kamu bukan karena apapun atau siapapun. Atau kalo ke benda ya suka aja karena cocok, nyaman dipake, bagus dan alasan lainnya. Otak dan hatinya belum sampe untuk menyelami makna yang mendalam dari kalimat itu.

Dulu, setiap terlintas kalimat ini, hati ini selalu bertanya-tanya bagaimana mencintai seseorang atau sesuatu bisa dikaitkan dengan Allah? Kamu ya kamu. Allah ya Allah. Gimana bisa perasaan itu digabung?

Sampai akhirnya..

Pelajaran berharga itu datang.

Dulu, punya pemikiran seperti itu gak salah. Hanya saja memang hati dan otaknya belum terbuka.

Dulu, kalimat itu dianggap terlalu naif ternyata diri inilah yang saat itu terlalu naif.

Ternyata, Allah sudah membuat ketetapan sedemikian rupa untuk manusia dan semua itu pada akhirnya untuk kebaikan manusia itu sendiri.

Mencintai karena Allah.

Dengan menjadikan Allah satu-satunya alasan untuk mencintai membuat kita menyandarkan cinta kita, pikiran dan perasaan kita, harapan kita pada Allah semata. Allah, Al Muhaimin, Zat yang Mahamengatur, mengatur hal ini sedemikian rupa yang sudah pasti tersirat kebaikan di dalamnya.

Tak ada satu pun di muka bumi ini yang kekal, istri, suami, anak, orang tua, teman, keluarga, hewan peliharaan, tanaman kesayangan, harta benda bahkan hati dan perasaan manusia. Hanya Allah-lah yang kekal, hanya Allah-lah yang berkuasa atas takdir, hanya Allah-lah yang berkuasa membolak-balik hati manusia. Menyandarkan diri, hati, cinta kepada yang tak kekal tanpa melibatkan Allah pada akhirnya akan melukai diri.

Musim berganti..

Suatu saat nanti, perasaan dari pasangan kita pun bisa saja berubah, anak yang kau cintai bisa saja berbalik membenci, tanaman yang selalu kau sirami bisa saja tiba-tiba mati, benda berharga yang kau simpan bisa saja tiba-tiba hilang karena mereka memang tak kekal adanya. Jika kita sandarkan diri, hati dan cinta kita terhadap itu semua tanpa melibatkan Allah maka bisa saja kita mendadak mati suri jika kehilangan itu semua.

“Menderita karena melekat, bahagia karena melepas”. Pernah terdengar kalimat itu saat kami berjuang melewati kesedihan pasca kehilangan anak kami. Dan ternyata perlekatan itu bisa dikendalikan dengan melepaskan sandaran kita dari sesuatu yang fana ke Zat yang Kekal. Menerima dan meyakini, bahwa keberadaan mereka saat ini, rasa cinta mereka saat ini, adalah Allah yang menghadirkannya. Sehingga jika suatu saat kehadiran tersebut hilang hatimu tak akan runtuh, tetap kokoh berdiri karena kau punya pilar abadi sebagai sandaran hati.

Ini tak kan serta-merta menyelesaikan masalah kita tapi dengan begitu kita bisa kokoh berdiri dalam menghadapi dan mencari solusi atas suatu masalah. Takkan limbung badan, takkan berasap otak oleh drama-drama yang menyesakkan hati. Karena dengan sandaran abadi bersamamu, kau masih bisa menjaga kewarasan otakmu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s