Breastfeeding Story · Parenthood Story

Menyusui dengan Keras Kepala

Breast-feeding is a beautiful privilege and the sweetest moment with baby, ever. ♡

Ini perjuangan masa lalu, perjuangan seorang ibu yang bertekad memberikan yang terbaik untuk anak bayinya. Tekad yang telah ia kumpulkan sejak sebelum si anak lahir, anak yang sudah lama dinanti. Ibu mana yang tak ingin memberi yang terbaik untuk buah hatinya, darah dagingnya? Terlebih jika perjuangan sang ibu untuk mendapatkan si buah hati bukanlah mudah. Hampir 4 tahun menanti, 2 kali keguguran, sempat terbaring 4 hari di ICU dan berkali-kali bolak-balik Rumah Sakit karena komplikasi pasca kuretase keguguran dengan vonis penyakit yang beragam, dan akhirnya si buah hati yang dinanti itupun hadir. Tak ada motivasi lain yang lebih kuat daripada ini. Tak ada.

Dari sekian banyak yang ingin diberi, menyusui adalah harapan tertinggi. Bayangan akan berduaan romantis-romantisan bareng si anak bayi selama moment menyusui, perasaan merasa dibutuhkan yang tak terbeli, belum ditambah segudang manfaat dari ASI menambah harapan itu makin melambung tinggi. Semua perlengkapan bayi bisa saja dibeli dengan harga paling mahal sekalipun tapi ASI, tak terbeli. ASI tak terbeli dengan rupiah, dollar atau mata uang manapun. ASI dibeli dengan kasih sayang ditambah kemauan kuat dan perjuangan keras kepala dari si ibu. Iya, keras kepala. Keras kepala untuk memperjuangkan ASI tak berkonotasi negatif. Bagaimana tidak, ASI sendiri dalam Al Quran merupakan perintah Allah seperti yang termaktub dalam surah Al Baqarah ayat 233. ASI adalah kodrat wanita yang wadahnya sendiri sudah diciptakan sejak si wanita masih dalam kandungan. ASI langsung dari tubuh ibu, mudah, gratis, higienis. Diperlukan tekad baja dan keras kepala untuk memperjuangkannya.

Ibu dalam kisah ini adalah saya. November 2 tahun silam anak pertama saya lahir ke dunia. Sejak ia di dalam kandungan saya bertekad untuk menyusuinya. Saya wanita bekerja dengan jam kerja 7 to 5 bahkan lebih dan hal ini tak menghalangi tekad saya untuk bisa menyusui, memberikan ASI bahkan hingga 2 tahun lamanya. Sejak ia di dalam kandungan saya belajar, melahap semua informasi dan pengetahuan tentang ASI dan menyusui, juga mempersiapkan semua peralatan perang yang dibutuhkan untuk memberikan ASI perah jika saya bekerja. Cukup banyak buku tentang ASI dan menyusui yang saya baca, terlalu rajin saya browsing dan jadi silent reader di beberapa forum emak-emak untuk tahu tantangan mereka dalam menyusui beserta kiat-kiatnya, untuk tahu perlengkapan apa saja yang dibutuhkan untuk busui yang bekerja, untuk tahu merk peralatan mana yang bagus dan cocok dengan kebutuhan saya. Sejak ia di dalam kandungan, saya juga sudah memilih dokter kandungan dan Rumah Sakit yang mendukung keras kepalanya saya untuk menyusui. Sejak kandungan memasuki trimester ketiga, peralatan ASI dan menyusui saya beli mulai dari botol ASIP, dot, sterilizer, bottle warmer, freezer, cooler bag, breastpump, apron menyusui, breastpad, bra menyusui dan juga baju menyusui. Bersyukur punya suami yang sangat mendukung keras kepalanya sang istri. Tak lupa, info apapun yang saya dapatkan tentang ASI dan menyusui saya share ke suami dan ini juga bagian dari perjuangan keras kepalanya saya karena keberhasilan menyusui sangat bergantung dengan dukungan dari orang terdekat.

big_41-16081-30686-42158-70-40398-3
Baju menyusui. Salah satu perlengkapan penting yang perlu disiapkan agar sukses menyusui. (Dapat diorder melalui online di http://www.hijup.com)

Selama 3 hari di Rumah Sakit pasca operasi caesar kami memulai perjuangan. Dimulai dengan IMD ala kadarnya karena kondisi tidak memungkinkan untuk IMD, hingga akhirnya sang anak kembali lagi di pelukan saya 3 jam pasca operasi.  Baru 3 jam pasca operasi saya sudah langsung duduk untuk belajar menyusui si bayi dengan infus yang masih terpasang. Bahkan saking semangatnya untuk menyusui dan belajar menemukan posisi yang tepat dalam menyusui, selang infus pun sempat mampet sehingga darah tersedot ke selang infus. Saya menikmati moment itu, saya tak yakin apakah ASI itu sudah berhasil diteguk si bayi namun tetap saya lakukan perlekatan dengan penuh cinta untuk merangsang aliran ASI.

Hari ke-4 kami diizinkan pulang ke rumah, perjuangan kami lanjutkan di rumah. Terbayang betapa bahagianya bisa menyusui di rumah sendiri sekaligus memperkenalkan rumah ke anak bayi. Allahualam, Allah knows best. Sesampainya di rumah, sang anak malah menolak disusui dan malam hari ia pun meronta-ronta karena terlalu lapar tapi tetap menolak disusui. Saya patah hati bahkan hanya sekadar mendekati si anak bayi saja membuat hati ini takut dan cemas. Tak menyangka, betapa menyakitkan rasanya ditolak anak sendiri, rasa sakit jahitan habis operasi menjadi tak ada apa-apanya.

Mendengarnya meronta-ronta karena lapar sambil menyimpan luka karena ditolak, saya relakan dengan linangan air mata ia menyusu ke adik sepupu saya yang juga busui dan kebetulan ada di rumah saat itu. Cemburu dan patah hati bercampur menjadi satu. Bergegas suami mencari pompa ASI karena pompa ASI elektrik yang kami beli masih di tangan mertua di Jakarta. Mencoba memompa dengan pompa manual yang dibeli tsb dan tak berhasil. Suami saya bergegas lagi mencari pinjaman pompa ASI ke istri rekan kerjanya yang juga busui. Mencoba memompa dengan pompa pinjaman tsb dan hanya menghasilkan 10 tetes.

Proses ini tak semudah seperti yang saya ceritakan. Memompa pada saat masih awal menyusui bukan hal yang mudah, sakit dan perih, belum ditambah menahan rasa nyeri di payudara hingga ke punggung karena payudara yang kian membengkak. Kami kumpulkan ‘air emas’ itu tetes demi tetes dengan linangan air mata, air mata perjuangan seorang ibu yang sangat ingin berhasil menyusui. Terdengar bisikan opini untuk memberikan opsi susu formula dan dengan lantang saya menolak. Bukan bermaksud egois dan idealis, hal itu saya lakukan karena saya belum selesai berjuang, saya masih melihat harapan dan masih terus membangun pikiran yang positif.

Sambil terus menambah stock ASIP tetes demi tetes, kami juga berusaha mendapatkan pompa ASI yang ada di tangan mertua secepatnya. Alhamdulillah, pompa tsb bisa diantarkan mertua ke ayah saya yang keesokan harinya berada di Bandara Soekarno Hatta dalam perjalanannya dari Tanjung Enim ke Balikpapan. Kami berjuang lagi dengan pompa yang baru, hasilnya pun masih sedikit. Padahal pompa ASI ini terkenal dengan hasil perahnya yang banyak dari beberapa review yang saya baca. Sampai akhirnya suami mendapatkan formula sakti yang entah ia tau dari mana, mungkin saja dari beberapa artikel yang saya kirim dulu. Ia siapkan kondisi kamar yang tenang, ia nyalakan TV, ia bantu memegang pompa ASI dan terus memberi sugesti positif dengan memerintahkan saya untuk relaks dan santai dengan cara memejamkan mata. “Jangan lihat pompanya, jangan lihat hasilnya, nikmati aja prosesnya, bayangin yang enak-enak, tidur pun gak apa-apa bila perlu.” Itu yang ia ucapkan. Ajaib. Masya Allah, dalam 20 menit pumping, berhasil terkumpul 40 ml dari kedua payudara. Mendadak banjir air mata saking terharu dan bahagianya. Belakangan saya tahu, lancarnya ASI mengalir sangat tergantung kenyamanan dan kebahagiaan dari sang ibu. Faktor psikis ibu yang nyaman dan bahagia diperlukan untuk memperbanyak produksi hormon oksitosin, hormon yang diperlukan untuk mengalirkan ASI. Jadi, kondisi ibu harus dibuat sesantai dan senyaman mungkin.

Bersyukur sejak ASI yang dikumpulkan sedikit demi sedikit semalam, si anak bayi mau menerima ASI melalui botol dot. Ini darurat, dengan kondisi anak yang tak nyaman, sulit untuk membuatnya belajar menerima ASIP dari media lain. Tentu saja ini membawa konsekuensi anak bayi menjadi bingung puting, terlanjur nyaman dengan puting dot sehingga benar-benar lupa dengan puting ibunya. Saat itu pun saya masih trauma selepas ditolak oleh si bayi sehingga masih teramat takut untuk mencoba lagi. Alhamdulillah, ibu saya ada di sana. Mama terus mencoba membujuk saya untuk menyusui langsung si bayi. “Jangan takut, Nak. Bayi ini ciptaan Allah, ia pintar, ia punya naluri. Puting ibu juga diciptakan Allah untuk menyusui bayi, gak mungkin jika terus-terusan ditempelin ke mulut bayi ia terus-terusan menolak. Bagaimana dengan ibu-ibu zaman dahulu yang ga ada susu formula, ga ada pompa ASI? Bisa mati kelaparan semua bayi-bayi zaman dahulu kalo begitu.” Deg. Mendengar ucapan itu mendadak semangat saya bangkit kembali. “OK. Saya harus keras kepala!”.

Sudah bisa ditebak, perjuangan kami berbuah manis. Lelah, tangis, rasa sakit terbayar sudah dengan berhasilnya anak bayi saya menyusui dan saya bisa mengumpulkan 500 botol stock ASIP hingga usianya 10 bulan. Bahkan, hingga akhirnya ia diambil lagi oleh Allah SWT ‘air emas’ itu tetap mengalir deras. Hari itu, saya lagi-lagi menangis. Namun Saya menangis bukan lagi karena ASI yang tak keluar, tapi karena ASI terus mengalir dan berproduksi di saat si anak bayi sudah pergi dan takkan kembali. Moment indah yang kami perjuangkan, moment indah yang kami nikmati menjadi terhenti sementara. Ya, ini sementara karena saya menyimpan asa, akan ada anak bayi yang lain yang akan melanjutkan jalan yang sudah dibuka oleh sang kakak. Alhamdulilah, sampai hari ini saya diberi kesempatan lagi menikmati moment membahagiakan ini meskipun dengan buah hati kami yang lainnya.

Untuk Kakak Danish Ara di surga, terima kasih sudah pernah berjuang bersama Ibu. Terima kasih sudah romantis-romantisan selama 10 bulan bersama ibu. Terima kasih, perjuangan yang Kakak Danish Ara lalui dulu membuat usaha Adik Nadra Annaima untuk menyusu menjadi lebih mudah.

Kakak Danish Ara, Ayah, Ibu dan Adik mencintaimu ❤.

2 thoughts on “Menyusui dengan Keras Kepala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s