Childhood Story · Life Lessons

Berbahagialah Selalu, Mama

 

1450755514928

“Saat kecil, mama belajar sambil menggembala sapi, Nak. Belajar di tengah hutan. Mengikat tali kekang sapi ke pohon, lalu mama belajar di atas pohon bahkan pernah sampai terjatuh”.

Cerita masa kecil Mama yang sangat berat selalu terngiang-ngiang di kepala, meningkatkan daya dorong yang luar biasa untuk saya terus belajar.

“Saat kecil, dengan sepatu yang menganga, sepatu yang merupakan hasil lungsuran dari kakak-kakak sebelumnya, mama selalu berdoa dan bertekad dalam hati: kelak jika aku punya anak, anak-anakku jangan sampe bersepatu lusuh seperti ini, jadi aku harus jadi orang yang sukses”.

Melalui cerita ini, ia menyelipkan pesan tentang tekad yang kuat dan kemauan yg keras untuk maju. Atas dasar ini juga ia pun akhirnya tak membiarkan kami memakai sepatu lusuh, tas yang usang atau baju yang warnanya pudar.

“Nak, Dulu mama 8 bersaudara dengan beberapa kerabat yang ikut tinggal di rumah. Kami makan 1 telur dadar dibagi 10 potongan, kadang-kadang 12 potongan. Bahkan di zaman paceklik kami hanya makan nasi dan garam.”

Ini yang memacu saya menjadi pemakan segala, yang selalu berusaha menghabiskan setiap makanan yang ada di piring makan (piring makan sendiri, bukan dengan piring makan orang lain juga ya).

“Nak, meskipun di lingkungan sekitar kami banyak anak-anak dan juga orang dewasa yang tidak sholat dan juga tak bisa mengaji. Kami diwajibkan mengaji oleh kakek bahkan kami dipukul jika tak mau sholat dan mengaji”.

Karena inilah, meskipun di siang hari bolong yang panas terik dengan mata yang mengantuk butuh tidur siang, setiap hari sepulang dari sekolah saya dan adik laki-laki berjalan kaki dari rumah ke masjid tempat mengaji yang jaraknya kurang lebih 2 kilometer. Hanya berdua saja karena anak-anak lainnya di sekitar rumah sibuk bermain-main.

“Anak-anak mama, di rumah memang ada Ayuk A (sebutan untuk PRT di rumah) tapi dia bekerja untuk mama bukan untuk kalian ya. Kalian harus membereskan tempat tidur sendiri, mencuci piring habis makan, membantu menyiram tanaman setiap sore dan mengepel lantai teras depan dan belakang. Tidak boleh sembarangan memerintah mereka apalagi memanggil mereka dengan sebutan pembantu. Kalian harus belajar mandiri, harus belajar tanggung jawab.”

Ah, bayangan bisa leyeh-leyeh di rumah sirna seketika. Tugas rumah selalu menanti meskipun kadang diiringi dengan raut muka malas-malasan dan senyum kecut sambil dalam hati berteriak “He~loo~w!”. (Hihi) πŸ˜‚

“Vivi, mama papa anter ke terminal bus, Vivi duduk manis di sana, hati-hati tidur jangan terlalu lelap nanti sampe Palembang dijemput sama Uwak di Terminal Bus”.

Dulu, saya menangis di bus waktu pertama kali dibiarkan berangkat sendiri perjalanan darat 5 jam di saat masih kelas 5 SD. Saya menganggap mama jahat dan tega, mama ga takut anaknya ada apa-apa di jalan. Itu dulu, belakangan saya tahu, itu caranya membuat saya menjadi anak yang tangguh dan berani (entahlah berhasil atau tidak ya? 😜) sehingga saya pun SMA dan adik laki-laki SMP sudah merantau dan tinggal jauh dari orang tua.

“Anak-anak mama harus bisa berkendara, motor juga mobil. Jangan kayak mama yang gak bisa keduanya, jadi susah di saat suami ga bisa mengantar dan keadaan mendesak jadi susah bergerak.”

Alhamdulillah, terima kasih banyak, Mom. Anakmu ini jadi mudah beraktivitas meskipun suami sering pergi ke luar kota.

Dan masih banyak petuah lainnya..

Inilah aku, inilah kami, tumbuh dari seorang ibu tangguh, ibu bekerja, ibu dari kecamatan kecil di sumatera selatan, ibu yang dulunya hanya lulusan SPRG setara SMA (belakangan sudah D3), ibu dengan latar belakang keluarga yang sangat sederhana. Meskipun begitu, visi misinya, wawasannya, pergaulannya, pengetahuannya jauh ke depan, bahkan menurutku melebihi orang-orang yang lulusan sarjana.

Ibuku bukan ibu sempurna, seperti pesannya yang selalu ia ungkapkan “Ambil yang baik dari mama, tinggalkan yang buruk” namun kekuatan hatinya, daya juangnya, pengorbanannya tak bisa kami balas selain dengan menjadi yang terbaik dan mendoakannya dengan sebaik-baik doa.

Selamat hari ibu, Ma. Kami bangga dan sayang tak hanya di satu hari ini. Hari ini hanya memanfaatkan momentum untuk merangkum ingatan kejadian-kejadian berkesan di masa lalu yang masih membekas hingga hari ini.

Berbahagialah selalu, Ma. Tak akan sanggup manusia membalas pengorbanan seorang ibu. Tapi yakinlah, Allah akan membalas perjuangan mama dengan sebaik-baik balasan dan itu lebih kekal adanya. ❀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s