Life Lessons

Hati yang Merasa Cukup

Penghujung tahun 2015. Kalender liburannya bersahabat banget ya? Gak heran di semua timeline media sosial seliweran foto-foto para keluarga, teman dan kenalan berwisata. Entah mengapa meskipun hanya melihat mereka hati ini ikut bahagia. Auranya positif banget! Seneng banget bisa tertular aura positif ini.

Foto-foto pemandangan tempat wisata, aneka selfie dan wefie, foto-foto bareng keluarga, pose-pose senyum sumringah dan ketawa renyah mereka nyetrum sampe sini dan bikin ikutan senyum. Sungguh menghibur. Baru ngeh juga, ternyata dari hal sesederhana ini bisa juga bikin bahagia. Senang melihat orang lain senang. Ah bersyukur sekali, tak terbersit rasa iri dan dengki. Alhamdulillah.

Pada dasarnya media sosial sendiri bisa menjadi pedang bermata dua, bisa membawa hal yang positif bisa juga negatif. Jika tak kuat pendirian, tak kokoh memegang prinsip dan iman yang sedikit goyah, bisa saja diri ini limbung ke arah yang menyesatkan. Senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. Termasuk ketika kita bersusah hati dan menuntut diri sendiri dengan pertanyaan semacam: “Orang lain kok bisa bersenang-senang terus ya? Giliran aku kapan?” Atau “Kok dia beruntung banget sih hidupnya seneng terus sedangkan aku nelangsa tak berkesudahan?”.

Pada akhirnya kita semakin menyesatkan diri bahkan ke arah kufur. Kita mulai membandingkan apa yang kita punya serba kurang dibandingkan orang lain. Pasangan yang kurang romantis atau kurang baik, rumah yang kurang bagus, harta yang kurang banyak, rekreasi yang kurang sering, dan lain sebagainya yang akhirnya semakin membuat kita mengutuki dan meratapi nasib diri sendiri.

Semoga kita lekas tersadarkan bahwa kita telah tersesat jauh. Sudah bisa ditebak kan siapa yang menyesatkan kita? Tau kan? Tak perlu disebutkan namanya di sini, bisa-bisa tulisan ini jadi lari ke tausyiah padahal apalah diri ini, hanya remah-remah rempeyek yang bersisa di toples. Dia yang tak perlu disebutkan namanya ini telah berhasil melumpuhkan kita lewat titik lemah kita. Sudah bisa ditebak, ketika kita sudah meratapi diri dan bersusah hati saat melihat kesenangan orang lain maka sesungguhnya kita sudah kalah di medan pertempuran. Kita terpedaya. Ouch!

Semoga kita cepat tersadarkan bahwa kita masih di dunia yang sama. Dunia yang isinya setiap manusia tidak akan hanya merasakan bahagia terus-menerus atau sebaliknya sedih yang tak berkesudahan. Semoga kita segera tercerahkan bahwa kebahagiaan itu letaknya di sini dan di sini *tunjuk dada dan kepala*. Kebahagiaan bukan hanya milik si Kaya dan kesedihan juga bukan hanya milik si Miskin.

Yakin si Kaya lebih bahagia dari si Miskin?

Barusan denger grasak-grusuk tentang #papamintasaham kan? Tau kan betapa kayanya mereka? Jalan-jalannya aja pake pesawat jet. Apa mereka bahagia? Menurut kita yang remah-remah rempeyek ini angka-angka yang mereka ributkan aja udah bikin merem melek saking banyaknya, harusnya mereka bahagia. Harusnya. Namun yang terjadi mereka terus berusaha dengan berbagai cara menumpuk harta yang entah sampe kapan akan dinikmati seakan umur bisa dibeli, seakan raga tak akan mati. Mereka belum puas, mereka belum merasa bahagia. Bahkan belum sempat menikmatinya pun bisa jadi keesokan harinya hati sudah was-was karena masuk dalam DPO. Masih berpikir kebahagiaan hanya milik si Kaya?

Pernah juga tertegun ketika menyaksikan kisah inspiratif Mbah Sadiman yang menghabiskan 19 tahun hidupnya untuk menanami 11.000 pohon beringin di lereng gunung desanya tanpa dibayar bahkan merogoh kocek sendiri dengan tujuan supaya daerahnya tak kekurangan air bersih dan tak kekeringan ketika kemarau. Ada satu pertanyaan dari wartawan yang jawabannya sungguh menampar hati hingga bikin air mata meleleh. Ketika itu ia ditanya, “Namanya orang pasti juga merasa sedih, kecewa.. Saat seperti apa Mbah merasa seperti itu?” Mbah Sadiman menjawab dengan entengnya, “Sedihnya tidak saya rasakan.. Asal ingat kepada Allah itu sudah hilang itu sedihnya”. Bahkan saking penasarannya si wartawan terus mengejar pertanyaan tentang rasa sedih, “Pas apa kalau sedih?” Dengan santai dan sedikit haru beliau menjawab, “Sedih karena ekonominya kekurangan, tapi Saya tidak merasa terlalu berlebihan, biasa saja, setengah-setengah. Malah panik kalau dirasakan”. Masih berpikir bahwa si Miskin hanya berkutat dengan kesedihan dan merasa bahwa kita manusia yang paling merana? Ah, diri ini saja merasa malu. Si Mbah sadar betul bahwa hidup di dunia hanya sementara, harta di dunia tak dibawa, mulia di dunia bukan jaminan, bahkan selama ia beriman dan bertakwa, di Padang Mahsyar kelak tempatnya lebih mulia berada di antrian terdepan untuk masuk ke pintu surga. Allahualam bishowab.

1451147767590

Kebahagiaan tak bisa dibeli dengan uang. Kebahagiaan itu ada di hati yang merasa cukup. Cukup. Tak lebih dan tak kurang. Tidak berlebihan berharap juga tidak kurang harapan hingga putus asa. Tidak berlebihan berpikir (bahkan kadang saking berlebihannya jadi suudzon sana-sini, prasangka sana-sini) juga tidak kekurangan pemikiran sehingga terkesan cuek dan tak peduli kanan-kiri. Semua cukup sesuai kadarnya. Ibarat posisi bumi dan matahari, pas aja gitu. Kalo kedekatan kita meleleh (berasa Barbie bisa meleleh), kalo kejauhan bisa membeku. Toh pada akhirnya semua hanya numpang lewat, singgah sebentar lalu menghilang di kejauhan. Seperti alam yang mengajarkan ada siang yang akan berganti malam, ada terang sehabis hujan badai. Ah, semoga saja Allah bimbing agar hati ini selalu merasa cukup. Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s