Life Lessons

Jadilah Cerdik Bukan Picik

Jadi gini, kadang ngerasa gak sih kita jadi manusia ini terlalu picik? Ih kok kejam banget ya diksinya kali ini? Kalem dulu ya. Manusia kan emang ada sisi hitam dan putih jadi wajar aja klo tiba-tiba muncul sisi buruknya. Wajar tapi tidak untuk dipelihara.

Tertarik mengulas diksi ini dan masih terkait dengan dua tulisan sebelum ini yaitu Hati yang Merasa Cukup dan Keseimbangan Hidup. Why oh why? Entahlah, seperti biasa, sesuai nama blog ini saya berperan sebagai pengamat, pendengar, penonton bahkan juga aktor yang mengalami sendiri cerita-cerita tsb. Puzzle-puzzle pengalaman hidup itu saya rangkai di otak lalu dituangkan ke dalam tulisan sebagai pembelajaran diri.

OK, kembali lagi ke picik. Pernah merasa iri atau minimal pengen kayak hidup orang lain yang terlihat lebih beruntung atau lebih bahagia daripada kita? Ah, ga usah mengelak. Pasti pernah. Apakah dengan begitu kita jadi picik? Oh, nggak. Belum sampe. Baru memancing ke arah sana.

Pertanyaan selanjutnya? Pada saat muncul rasa iri atau menginginkan hal tsb kira-kira kita mau nggak nerima kehidupan yang mereka jalani secara utuh? Utuh di sini bukan cuma yang terlihat di depan layar. Bok, di mana-mana kalo namanya di depan layar mah semuanya yang bagus-bagus, yang indah-indah secara sudah melewati proses penyuntingan. Noh, coba liat situasi di belakang layar kayak apa berantakannya. Ketemu keyword-nya? Berantakan. Masih mau kalo udah tahu cerita di balik layarnya yang berantakan? Pasti gak mikir lagi untuk jawab GAK MAU.

Udah dapet esensinya kan? Masih ga mau dibilang picik? Ouch! Menusuk yak? Ah sesekali manusia emang perlu dibangunkan dari delusinya.

Hidup itu proses. Kita ga bisa ngarepin hasil yang bagus dan indah tanpa melewati proses. Kita ga bisa sukses tanpa melewati proses yang isinya kegagalan-kegagalan kita sebelumnya. Terpana, silau dan berkhayal dengan kebahagiaan dan kesuksesan orang lain boleh aja sih tapi jangan terhanyut.

Kebahagiaan dan kesuksesan teman, kakak, adik, atau random person yang kita liat itu cuma bagian depan layarnya. Sadarkan diri, perjuangan mereka di balik itu mungkin berdarah-darah, bisa jadi lebih banyak dari darah yang kau keluarkan.

Karirnya yang sukses, bisa jadi ia gapai dengan letih dan lelah yang berkepanjangan bahkan banyak orang tersayang yang ia korbankan. Anaknya yang sehat dan pintar, bisa jadi merupakan hasil dari pengorbanan melepaskan passionnya, bisa jadi ia dapatkan setelah melewati proses kehilangan yang tak mudah. Hartanya yang banyak dan bergelimang, bisa jadi karena ia pernah melewati usahanya yang gulung tikar bahkan ditipu berkali-kali. Suami atau istrinya yang romantis dan penyayang, bisa jadi karena ia turunkan egonya, mengalah dan melunak sehingga ia dihadiahkan Allah sesuai dengan usahanya. Ah, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha bukan?

Dengan hanya melahap potongan di depan layar bisa saja membuatmu iri bahkan sampai meratapi nasib sendiri. Cobalah kau telaah perjuangan berdarah-darahnya di balik layar, perasaan ngiler karena kepengen, iri bahkan dengki pasti luntur. Be smart, ambil pelajaran berharga yang bisa kita teladani di sana. Mungkin saat ini kau tak akan bisa punya apa yang orang tsb punya tapi setidaknya kau punya pikiran yang terbuka, hati yang lapang, pembelajaran dari hidup mereka sebagai modal berharga bahkan lebih berharga dari hal-hal atau benda-benda yang ditampilkan di depan layar. Jadilah CERDIK bukan PICIK.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s