Life Lessons

Diam dan Menghindari Perdebatan

Diam dan Menghindari Perdebatan

Be selective in your battles, sometimes peace is better than being right.

-Unknown-

Ini malam udah lewat midnight, entah mengapa masih semangat alias kantuk belum menyapa sedikit pun. Mungkin sisa-sisa adrenalin hari ini belum habis, baiklah sepertinya perlu dihabiskan dengan menulis. (Tiba-tiba ada yg tereakin “Al Kahfi belom kelar oi!” Senyumin aja dulu ah 😊)

Hanya ingin menuliskan tentang renungan diri. Udah belajar berpuluh tahun masih sering lupa dan lalai. Iya, iya ga jauh dari kutipan di atas. Ga mungkin kan nemplokin quote kalo ga ada kaitannya.

Akhir-akhir ini sering menghadapi pertempuran, bahkan sempet gencatan senjata segala. Uh syereeem. Baca quote itu bikin makjlebcespleng, senada juga dengan anjuran dalam islam untuk menghindari perdebatan dan juga berbicara yang baik atau diam. Keliatannya sepele banget. Baca aja selintas mah gampang, memahami maknanya juga mudah banget. Bagaimana dengan eksekusinya? Uh. Sampe detik ini up and down, jungkir balik kadang malah salto.

Diam? Menghindari perdebatan?

Mudah banget!Β  Mudah banget kalo pas lagi sendirian di toilet. Hihi.

Diam? Menghindari perdebatan?

Agak mudah kok, kalo lagi di pembahasan yang kita ga paham dan ga punya ilmunya. Ini aja godaan untuk jadi sotoy dan pasang muka songongnya luar biasa. *buka kartu*

Diam? Menghindari perdebatan?

Sulit kalo di situasi pembicaraan atau perdebatan yang kita pahami dan/atau mengilmuinya. Lidah rasanya gatel-gatel pengen komentar atau jempol berasa nyut-nyut pengen ngetik. Entah sekadar pengen eksis alias pamer ilmu atau emang berniat meluruskan dan mencerahkan.

Diam? Menghindari perdebatan?

Akan menjadi teramat sangat rumit sampe bikin pengen salto atau jungkir balik saat perdebatan itu menyeret diri kita secara personal ke arena perdebatan. Yaaa semacam memancing kita untuk rusuh atau ribut bahkan udah ke ranah personal kita. Kalo udah gini, menahan rasa untuk gak nanggepin dan dadah-dadah sama yang ngajak rusuh bikin kepala berasa udah di kaki dan kaki udah di kepala makanya pengen jungkir balik biar bener. *elus dada*

Ah, menjabarkan tahapan di atas berasa buka mesin waktu. Inget perjalanan hidup diri sendiri, semacam life’s milestone. Dari baru lahir yang belom bisa ngomong apa-apa dan paling banter cuma nangis, sampe jadi anak-anak dan remaja yang suka sotoy dan songong ngomong apa aja sak-karepe-dewe-ora-mikir-blas, dan nyampe usia beranjak dewasa yang tiba-tiba berasa jadi (sok) jagoan, tiba-tiba pula berasa jadi (sok) bijak. Mihihi.

Pertanyaan selanjutnya, di tahapan mana kah saya saat ini? So sad, untuk mencapai tahapan selanjutnya perjalanan ini sungguh berkerikil, bahkan kadang keinjek juga kerikil yang tajam. Ugh.

Menjadi dewasa adalah cita-cita dan harapan. Bisa tetap diam dan tersenyum manis di saat diri ini disentil-sentil atau malah diseret-seret ke dalam arena pertempuran pribadi satu lawan satu atau banyak lawan satu. Bisakah diri ini tetap tersenyum dengan manis dan legit saat disentil, dicubit atau digaplok? (Lewat kata-kata ya maksudnya hehe). Ah, ini ujian rumit sekali.

Ketika bayi, belajar bicara lebih rumit daripada diam. Seiring bertambahnya usia, belajar untuk diam menjadi lebih rumit daripada bicara.

Lagi pula ini juga tentang harga diri, Man! Tentang pride dan image. Misal saja, bisa kah tetap tersenyum manis dan legit ketika dibilang bodoh dan ga tau apa-apa untuk hal-hal yang kamu menguasainya? Atau dituduh beruntung saja padahal kamu mati-matian berjuang mendapatkannya? (Ini contoh saja ya bukan curhat, ciyus).

Hidup ini penuh dengan pilihan-pilihan dan menjadi dewasa itu pilihan. Ya, lagi-lagi kalimat klise. Memilih untuk tetap diam dan santai menghadapi cacian, makian, hujatan dan tuduhan atau seketika bereaksi spontan dan impulsive.Β Jadi keinget kelas attitude dulu, tentang reaktif dan proaktif. Agak-agak lupa sih, tapi kurang lebih bedanya reaktif merupakan reaksi spontan yang digerakan oleh perasaan, keadaan, kondisi dan lingkungan sedangkan proaktif merupakan reaksi yang digerakan oleh nilai-nilai yang sudah dipikirkan secara cermat, diseleksi dan dihayati. Ini dia nih, kalo lagi bener sih sumbunya bisa panjang jadi ga cepet terbakar, bisa mikir dulu. Susahnya kalo lagi kurang waras sumbu pendek, sekali senggol langsung bacok. *istighfar*.

Menjadi dewasa itu memilah-milah arena pertempuran untuk ketenangan jiwa. Toh, orang pinter ga perlu tereak pake towa kalo emang dia pinter, atau orang bijak juga ga perlu infoin ke satu per satu orang kalo dia bijak.

Menjadi dewasa itu lebih mengutamakan introspeksi dan muhasabah diri ketimbang sibuk klarifikasi sana-sini tentang penilaian orang lain atau tunjuk sana-sini menyalahkan orang lain. Ah, lagi pula baik di mata manusia kebanyakan adalah ujian yang melenakan. Baik di mata manusia belum tentu baik di mata Tuhan. Sebaiknya tak usah bersibuk diri dengan penilaian manusia, karena kaca matanya bisa saja salah maklum manusia tempatnya khilaf dan salah. Lebih baik dinilai buruk untuk mawas diri daripada terlalu jumawa dan angkuh hati dilenakan pujian.

If someone corrects you and you feel offended, it means you have an ego problem.
-Nouman Ali Khan-

Teringat pepatah lama yang selalu terngiang-ngiang: “Jika seseorang memujimu maka ada yang orang tsb ambil darimu, jika seseorang mengkritikmu maka ada yang orang itu berikan untukmu”. Kalimat ini cukup ampuh untuk mengembalikan ke jalur yang benar kalo otak dan hati lagi korslet habis dikritik atau dicaci.

Belakangan, kemampuan ini sepertinya lagi diuji. Merasa disentil lalu berhasrat ingin merespon balik namun seketika itu juga berpikir perlu atau tidak, penting atau tidak, adakah manfaatnya untuk diri, yang akhirnya tersandera dengan pertanyaan sendiri dan berujung dengan introspeksi diri saja dengan endingnya diam. Sepertinya hidup lebih damai dengan begini. Asalkan diamnya diam berpikir bukan diam karena denial alias ngeyel bin ndableg. *nyengir*.

Wise men, when in doubt whether to speak or to keep quiet, give themselves the benefit of the doubt, and remain silent.
-Napoleon Hill-

Indeed, it’s a big challenge. Ah, bismillah semoga saja diri ini bisa istiqomah untuk mencoba diam dan menghindari perdebatan. Aamiin.

2 thoughts on “Diam dan Menghindari Perdebatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s