Childhood Story · Parenthood Story

Mainan Kesukaan ‘Si Anak Nakal’

Dulu. Dulu sekali. Ibu dari 2 anak perempuan ini juga adalah seorang anak perempuan, sulung dari 3 bersaudara. Entah karena nasib jadi anak sulung atau memang bawaan dari lahirnya atau faktor didikan orang tua yang membuatku tumbuh menjadi anak perempuan yang laki banget alias tomboy. Entahlah, sampe hari ini hal ini masih menjadi misteri.

Hiperaktif, pantat berduri, bandel, nakal, gak bisa diem. Itu semua predikat yang disematkan ke diriku saat itu. Bersyukur sekali di era ini predikat tersebut sudah terdefinisi dengan baik menjadi tipe anak kinestetik. Jangan ditanya apa rasanya dilabelin dengan predikat anak nakal. Sedih, pengen berontak tapi apa daya pada saat itu aku hanyalah anak kemarin sore yang masih tengil dan bau kencur.

Masih beruntung saat itu aku lahir dan tumbuh di era teknologi informasi belum secanggih saat ini sehingga ‘kelebihanku’ ini bisa disalurkan ke tempat yang tepat bahkan anak sepertiku seakan mendapatkan ‘panggung’ untuk tampil. Sejak lahir hingga kelas 6 SD aku tinggal di perumahan dinas si ibu di sebuah pasar pagi. Bukan kompleks, hanya beberapa rumah yang membaur dengan masyarakat sekitar.

Saat itu berkisar di tahun 1990-an dimana anak-anak masih heboh bermain-main di luar rumah dengan banyaknya jenis permainan yang mengasyikkan. Bersyukur sekali ‘kelebihanku’ bisa tersalurkan lewat permainan-permainan yang cukup menguras energi. Emak-emak jaman ini pastinya agak bersyukur karena ga perlu pusing memutar otak untuk menemukan kegiatan apa yang bisa menjadi penyaluran ‘bakat alami’ si ‘anak nakal’.

Dengan berbagai permainan tersebut, emak-emak gak perlu khawatir perabotan-perabotan di rumah bakal hancur lebur, atau kepala si anak kepentok sudut meja karena sibuk berlari-larian di dalam rumah. Yah, tetap bersyukur meskipun hanya menyelamatkan kondisi di dalam rumah karena dengan bermain di outdoor bukan berarti tanpa risiko si anak akan terluka. (Pengalaman pribadi pernah lompat dari bak mandi sampe gegar otak :p)

Kenangan akan serunya bermain dengan berbagai permainan itu masih melekat kuat di ingatan. Pertanda bahwa momen itu merupakan momen yang sungguh berkesan. Mulai dari bermain engklek (di Tanjung Enim disebut cak engkleng), bentengan, kasti, petak umpet (sumputan disebutnya di sana), kelereng (ekar), cetoran, layangan, gambaran, ketapel (betetan), bola bekel, karet (yeye), dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak permainan itu ada satu jenis permainan yang aku amat sukai. Bukan apa-apa, alasannya karena aku sangat menguasainya dan sungguh bangga selalu menang jika bermain itu. Permainan itu adalah kelereng atau ekar atau gundu. Entahlah, sampe sekarang aku juga bingung kenapa bisa saat itu selalu menang bahkan melawan teman laki-laki karena memang kebanyakan yang bermain ini adalah anak laki-laki.

bermain-kelereng
Cara Menembakkan Kelereng

Aku masih ingat dengan jelas bisa mengumpulkan 1 bakul kelereng dari mulanya hanya punya beberapa kelerang saja dan itu semua hasil dari bertanding kelereng bukan dari membeli. Kok bisa? Penasaran kenapa bisa kelereng yang kita punya bertambah? Akan coba aku jelaskan sekilas cara bermain kelereng berdasarkan pengalamanku dulu.

Pertama-tama kita cari area yang cocok untuk bermain kelereng biasanya adalah di tanah yang datar dan agak luas. Lalu kita gambar lingkaran di atas tanah tsb kurang lebih dengan diameter 30 cm sesuaikan dengan banyaknya pemain dan kelereng yang akan dimainkan. Lalu setiap pemain meletakkan kelerengnya masing-masing di dalam lingkaran tsb bisa satu kelereng atau lebih dari masing-masing pemain, sesuai kesepakatan. Kemudian kita buat lagi 2 garis sejajar di depan lingkaran tsb. 1 garis di dekat lingkaran kurang lebih berjarak 10 cm dan 1 lagi agak jauh kurang lebih berjarak 1,5 meter dari lingkaran atau dikira-kira saja karena garis ini merupakan batas untuk melempar nantinya.

Dari garis yang dekat dengan lingkaran tsb, pemain melemparkan kelereng miliknya (yang akan jadi senjatanya menembak di luar dari kelereng yang ditaruh di dalam lingkaran) ke arah garis yang jauh tapi tidak melebih garis tersebut. (Ilustrasi gambar di bawah) Pemain yang berhasil melempar kelerengnya paling dekat dengan garis jauh tanpa melewati garis tsb itulah yang akan bermain terlebih dahulu.

PicsArt_01-23-11.34.02
Layout Arena Bermain Kelereng

Cara bermain kelereng yang aku mainkan dulu adalah dengan berusaha menembak kelereng yang jadi senjata milik pemain lain. Jika tepat dan berhasil mengenai sasaran maka aku berhak mendapatkan seluruh kelereng miliknya yang ada di dalam lingkaran. Jika tak berhasil maka digilir lagi ke urutan pemain berikutnya yang akan mencoba menembak kelereng senjata pemain lain termasuk punyaku. Terus begitu hingga akhirnya didapatkan siapa yang berhasil bertahan hingga akhir dan memenangkan pertandingan. Itulah yang membuatku bisa mengumpulkan banyak kelereng hingga 1 bakul. Seru bukan? Hihi.

Pada saat kuliah pernah ada teman laki-laki di kampus yang membawa kelereng dan lagi-lagi aku penasaran menguji keahlianku saat itu. Whoa! Ternyata keahlianku membidik kelereng tak hilang. Ketika itu aku mulai paham bahwa permainan ini punya manfaat yang juga bagus sekali diantaranya:

  1. Melatih fokus dan konsentrasi. Dengan menembak satu demi satu lawan dengan ukuran kelereng yang relatif kecil dan sasaran yang jauh dalam waktu singkat tentu saja ini melatih konsentrasi yang cukup tinggi.
  2. Mengatur emosi. Setelah membidik sasaran dengan cara melepaskan tembakan tentu saja membuat pikiran benar-benar relaks dan membuat bahagia.
  3. Melatih kemampuan berpikir. Bermain kelereng juga merupakan adu strategi dengan mencari cara melepaskan tembakan yang tepat dan juga mencari angle tembakan yang pas agar tepat sasaran.
  4. Melatih kesabaran. Banyak kesabaran yang diuji di sini. Hihi. Mulai dari kesabaran melempar supaya tak gegabah dan salah lempar, kesabaran menanti antrian menembak, kesabaran dalam melesatkan tembakan, kesabaran jika ternyata kita jadi korban tembakan dan tak bisa melanjutkan permainan juga kesabaran harus kehilangan beberapa kelerang karena diambil pemain yang berhasil menembak kita.
  5. Belajar tentang suportivitas. Bermain dengan bertanding dengan fair melatih kita untuk berjiwa suportif. Terlebih permainan ini kebanyakan dimainkan oleh anak laki-laki yang rata-rata punya mental bermain yang suportif.

Wah, ternyata sangat bagus juga anak kinestetik mencoba permainan ini. Energi dan kreativitasnya yang berlebih memang perlu disalurkan ke hal-hal yang bisa membuatnya fokus dan berkonsentrasi tapi tetap dengan cara yang fun sehingga ‘kelebihan’ tersebut makin terasah ke arah yang positif tanpa kehilangan jati diri dan haknya sebagai anak-anak.

Ini mainan kesukaanku. Apa mainan kesukaanmu?πŸ™‚

“Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil yang diselenggarakan oleh Mama Calvin dan Bunda Salfa”Β 

mama-calvin-&-bunda-salfa-giveaway

6 thoughts on “Mainan Kesukaan ‘Si Anak Nakal’

    1. Tipe feminin permainannya jg ga kalah banyak ya Mba wkt jaman dulu. Iya strateginya di jari tangan waktu akan menembakkan kelerengnya. Iya itu gambar arena permainannya. 😊

      Like

    1. Hihi. Lumayan, Mba. Makasih banyak Mba Lidya udh bikin GA ini. Jadi semangat untuk nulis pengalaman bermain wkt kecil. Membangkitkan memori indah masa itu. Huhu. Makasih banyaaaak. Senang sekali. 😊

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s