Random Thoughts

Kisah Rumput, Panci Berjelaga dan Pulang Kampung

PhotoGrid_1468466948149
Alhamdulillah. Setelah 4 tahun ga berjumpa Nenek dan Kakek (atas: Nenek dari Mama | bawah: Kakek dan Nenek dari Papa)

“Tiga hal yang merupakan pusaka kebajikan: merahasiakan keluhan, merahasiakan musibah dan merahasiakan sedekah.” (HR. Thabrani)

Islam mengajarkan hal di atas, sebisa mungkin dicoba dilakukan. Sebisa mungkin tak berkeluh, sebisa mungkin tak menunjukkan ada masalah dan hal buruk lainnya. Seharusnya bagus bukan? Seharusnya dan memang pastinya.

Tapi.. efek lainnya muncul. Seperti kalimat yang pernah terbaca: rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau tapi siapa yang tau jika jelaga si tetangga ternyata lebih hitam dan lebih tebal.

Ga ada yg tahu bahkan kadang malah ga mau tahu, fokusnya hanya pada yg lebih saja yg kurangnya dilupakan. Fokus dengan kebahagiaan orang lain saja, lupa bahwa orang lain itu jungkir balik diterpa ujian.

Bahagianya mau? Pasti mau. Ujiannya mau juga gak? Gak mau lah pasti. Itulah.

Jadi apa hubungannya foto ini sama jelaga? Apa ya? *tiba-tiba ilang fokus*

Hubungannya adalah:

Bolehkah berbahagia sejenak berjumpa dengan keluarga dan kampung halaman tercinta?

Bolehkah berbahagia sejenak menjenguk nenek dan kakek yg sudah renta setelah 4 tahun tak bersua akibat musibah yg beruntun yg membuat tak bisa pulang kampung. Bahkan terhitung 5 x lebaran ‘Mba Thoyib’ ga pulang-pulang. Nenek dari mama yg terakhir kudapati masih bisa komunikasi 2 arah kini kutemui sudah tak kumengerti apa ucapannya, tanpa bicara tiba-tiba mengalir di sudut matanya ketika kutampakkan mukaku di hadapannya. Nenek dan Kakek dari Papa yang bercerita keadaan mereka yang sudah renta sambil berurai air mata. Melepas kepulangan kami sambil berdoa semoga masih punya umur untuk bersua kami lagi. *mbrebes mili*

Bolehkah menginjakkan kaki di rumah dan kampung halaman tempat dilahirkan dan dibesarkan?

Qadarullah insya Allah ortu akan ada moment penting di Idul Adha kali ini, bolehkah mengantarkan mereka melalui moment yg mungkin hanya sekali seumur hidupnya?

Aku mengerti, aku mengerti. Tidak akan pernah bisa kita menyenangkan semua orang. Pasti akan ada yg kecewa dan terluka. Pasti.

Tapi bolehkah aku membahagiakan diriku barang sejenak untuk mengisi perbekalan jiwa yang nantinya untuk membahagiakan orang lain termasuk anak, suami, ortu dan mertua serta keluarga dan orang terdekat lainnya?

Setiap orang punya cara untuk berbahagia dan berhak atas itu. Bolehkah aku? :’)

Ah, rumputku boleh lebih hijau kah sebagai pelipur lara karena jelaga di panciku yang lebih hitam dan tebal?

Sekian curhat penghilang penat.

Seperti kata five for fighting:

I am only a man looking for her dream..

Even heroes have the right to bleed..

It’s not easy.. to be.. me..

Gak mudah. Ah, untungnya masih punya Allah yang dengan Kuasa-Nya sanggup menguatkan hamba-Nya sehingga yang sulit menurut manusia bisa sekejap menjadi mudah melewatinya. Allah, aku pada-Mu.

Menuangkan isi hati lewat tulisan ini hanya salah satu cara untuk menjaga kewarasan diri sambil menelaah dan berupaya mengambil hal positif dari apa yang dialami ini. Tidak bermaksud menyinggung yang tersinggung. Pahami saja ibu beranak bayi ini yang harus menjaga kewarasan hati dalam mengasuh bayi. Pahami saja seperti aku berusaha memahami engkau yang telah menorehkan luka di hati ini.

One thought on “Kisah Rumput, Panci Berjelaga dan Pulang Kampung

  1. Mbak Vivi, apa kabar? Pas mba Vivi update di fb, kapan tauu itu udah 8 taun di wp aku cari blognya dan ketemu. Tulisannya bagus2 mbak, apalagi foto makanannya ☺

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s